Listening Skills

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ahamdulillahirabbil’almin wabihi nastanginu’alaumuridunya waddin Allohumma shalli’ala sayidina muhammad wa’ala alimuhammad. Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah subhanahu wata’ala sehingga kita dapat berkumpul di sore yang cerah ini. Shalawat serta salam semoga tansah tercurahkan kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wassallam

Hari ini kita akan belajar mendengarkan yah. Ini sering kali kita abaikan,kita anggap remeh. Padahal kita tau telinga kita lebih banyak dari pada mulut kita sehingga sebaiknya kita lebih banyak mendengar so how is listening skills. Mau pake bahasa inggris atau Indonesia hehe… Ok now we will study about listening skills this important skilss wehave to study.

Jadi kalo dari sisi komuniksi pelajaran yang pertama harus kita pelajari adalah mendengarkan baru membaca & menulis. Fakta telah terbukti bahwa Allah subhanahu wata’ala menciptakan pada janin itu telinga dulu. Bukan mulut, tangan atau kaki dulu. Makanya kalo udah masuk 4 bulan ke atas sang bayi udah bisa merespon/mendengar sesuatu dari luar.

Begitu juga kalo orang mau meninggal/sakaratul maut tangan, kaki, matanya udah tidak berfungsi tapi telinga masih bisa mendengar maka ada istilah talkin mayit, dibacain supaya dia mendengar. Karena kupingnya masih mendengar. Urutanya untuk kompetensi komunikasi, dipelajari, penggunaan & pengajaran bisa di liat di tabel ini yah..

Profil keterampilan dasar komunikasi

Keterampilankomunikasi Urutandipelajari Tingkatpenggunaan Tingkatpengajaran
Listening Satu Satu Empat
Speaking Dua Dua Tiga
Reading Tiga Tiga Dua
Writing Empat Empat Satu

Perbedaan “Hearing” and “Listening”;

  • “hearing” adalah mendengar yang bersifat fisik, artinya ada suara yang terdengar oleh telinga, namun tidak dicerna oleh pikiran, jadi apa-apa yang terdengar bersifat angin lalu, tidak berkesan. Seperti kita kuliah di Insan Pembanguanan sering mendengar suara mobil lewat tapi itu semua tidak masuk ke dalam pikiran kita
  • “Listening” dilain pihak lebih dari sekedar “hearing”. “Listening” melibatkan usaha-usaha aktif dari pikiran dan perhatian penuh atas apa yang kita dengar melalui telinga. Sample seperti mendengarkan musik.

Stages of the listening process (Tingkatan proses mendengarkan);

  • Mendengarkan/hearing. Mendengar tapi tidak masuk kepikiran, seperti kita sedang belajar. But di luar lagi hujan. Kita denger hujan itu tapi tidak masuk kepikiran sekedar angin lalu
  • Fokus kepada pesan. Apa yang di sampaikan
  • Memahami dan menginterpretasikan. Tau yang di sampaikan & bisa menafsirkan. Contoh yang lagi tren sekarang yaitu “TERORIS”. Apa itu makna teroris? Kita lihat orang metal badanya tatoan apa anggapan kita pada oranga itu . “Preman” itu lah yang namanya menginterprestasikan. Kembali ke “TERORIS” image media telah memiringkan interprestasi dari jihad & teroris. Padahal keduanya berbeda teroris bukan jihad & jihad bukan teroris.
  • Menganalisa dan mengevaluasi. Sumber informasinya dengan jelas tidak simpang siur.
  • Merespon. Ada umpan balik yang jelas
  • Mengingat. Kadang kata kata pada momen momen tertentu sering kali membekas pada pikiran kita apalagi pesan pesan terahir

Sumber umpan balik/feedback terdiri dari;

  • Kontak mata. Kedipan dll
  • Ekspresi wajah. Bengong, wajah nya penuh tanda tanya dll
  • Gerakan kepala. Geleng geleng dsb
  • Sentuhan. Setiap sentuhan ada artinya,.
  • Respon verbal. Tanggapan lansung

Hambatan mendengarkan;

  • Hambatan lingkungan; gangguan suara dari luar (misal kampus kita di desain rapat tanpa lubang udara agar tidak ada suara masuk & keluar), suhu udara yang ekstrim terlalu panas/dingin, lelah, lapar (yang di dengarkan suara perut bukan suara yang lain), kursi/pakaian/sepatu yang tidak nyaman dipakai, dan sebagainya.
  • Hambatan fisiologis; perbedaan kecepatan antara kemampuan berfikir dan berbicara. Seorang manusia bisa berfikir lima kali lebih cepat daripada berbicara. Rata-rata kecepatan berbicara 125-150 kata/menit sedangkan otak dapat berfikir dengan kecepatan 500-1000 kata/menit. Makanya kalo kita ngomong sambil mikir itu agak susah so berhentilah sejenak agar tidak loncat. Biasakan Pelan, santai & harus benar dalam ngomong jangan terlalu kenceng
  • Hambatan psikologis terdiri dari;
    1. Selective listening: hanya ingin mendengarkan informasi tertentu yang dianggap penting saja dan mengacuhkan yang lain. Jangan seperti ini yah kalo kita tidak suka pada dosen, teman, keluarga biarkanlah bila dia memiliki kekurangan karena mereka juga manusia but kita masih butuh ilmunya. Jadi dengarkanlah dengan baik
    2. Negative listening attitude: sikap mendengarkan yang negatif. Misal sibuk dengan sms smsan, sambil update status dll
    3. Personal reactions to words: merespon kata secara denotatif dan konotatif. Misal orang yang piktor (pikiran kotor) sukanya ngelonjor (ngelamun jorok) hehe.. Something wrong dosen ngejelasin apa dia mikirnya jauh kemana mana terlalu konotatif
    4. Poor motivation: Kita tidak akan termotivasi untuk mendengarkan jika tidak tahu tujuan untuk apa mendengarkan. Misal orang Cuma ikut ikutan doang. Kuliah kuliahan cari status doang. Kalo serius ingin belajar hard skill, soft kill & life skill pasti dia serius dan seimbang dalam kuliah & berorganisasi di kampusnya. Karena di kampus bukan sekedar belajar mata kuliah.

Jenjang tujuan mendengarkan:

  • Response/action
  • Analysis
  • Retention/ingatan
  • Understanding. Memahami dari apa yang di sampaikan
  • Enjoyment. Kesenangan misal dengerin musik. Jarang sekali orang yang dengerin lagu untuk analisis yah, misal dengerin lagu barat untuk beljar bahasa inggris. Tapi kalo dengerin lagunya Lady Gaga itu bahaya bukan hanya tampilannya saja. Karena isinya mengajak menyembah setan dll

Panduan mendengarkan

  • Berhenti bicara. Dengarkan dengan baik sampai pembicara selesai menyampaikan pesan. Jangan adu omongan. Kita manusia jarang yang bisa multi tasking yah. Kita dengerin sambil ngomong. Terus kita lagi nulis something tapi di ajak ngomong jadi ya salah omongan orang itu yang kita tulis.
  • Hindari, kurangi atau hilangkan gangguan yang menyebabkan teralihnya perhatian.
  • Mencurahkan energi yang dibutuhkan untuk kepentingan pembicara dengan perhatian kita.
  • Gunakan sela waktu untuk memikirkan apa yang pembicara katakan. Jadi Seorang pembicara tidak boleh ngomong terus menerus nyerocos kaya petasan nikahan. Harus ada titik komanya.
  • Identifikasi ide utama dan pokok bahasan pembicara. Jangan cuma inget cerita lucunya doang tapi lupa inti isi pesanya. Cerita lucu bolelah sebagai hiasan.
  • Nilai isi pesannya bukan cara pembicara menyampaikan pesan. Terkadang kita kurang merespon ketika orang yang berbicara adalah orang di bawah kita. Jangan begitu yah.
  • Gunakan kata-kata sendiri, mencatat isi pesan dan ajukan pertanyaan pada waktu yang sesuai untuk memastikan pemahaman.
  • Interpretasikan kata-kata yang mengandung unsur emosional seperlunya. Jangan berlebihan.
  • Berikan umpan balik yang berguna.
  • Dengarkan perasaan pembicara bukan hanya fakta dari isi kata-katanya. Orang yang bisa berbicara dengan hati itu akan lebih banyak yang mendengar. Contoh Aagym bicara dengan hati, perasaanya ikut ngomong. Pemain teater dsb. Kalo kita pengen membuat orang lain semangat kita ya ngomongnya semangat jangan lemas. Liat situasi kalo mau ngomong sedih ya diatur juga bagaimana cara ngomong agar mebuat orang berkaca kaca, termenung dsb

Sekian semoga bermanfaat By Akhmad Farhan,MM.MBA. Alumni universitas utara malaysia (Dosen STIE Insan Pembanguanan, ketua iqro club Kabupaten Tangerang & yayasan sahabat muda Tangerang)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: