Kecakapan berfikir

Sangat berbeda antara kemampuan memahami dengan kecakapan berpikir. Memahami merupakan tingkatan yang lebih tinggi daripada mengetahui. Jika apa yang dikaji mengandung banyak kearifan hidup, maka ia mampu memahami apa sebaiknya dikerjakan dalam hidup ini dan apa yang tidak. Tetapi ia tidak mampu mencapai jenjang yang lebih tinggi, yakni menemukan kearifan hidup yang membuatnya lebih dekat kepada Allah Ta’ala.

Perlu kemampuan lebih tinggi daripada sekedar memahami agar anak-anak kita mampu mengambil pelajaran atas segala peristiwa maupun gejala alam. Apakah mencerna pelajaran yang diberikan guru di sekolah sehingga benar-benar memahami bukan termasuk kegiatan berpikir? Bukan. Kegiatan yang mengerahkan potensi otak secara optimal agar mampu mencerna sebuah penjelasan dengan sebaik-baiknya merupakan bagian dari kecakapan kognitif tingkat rendah, hanya setingkat di atas mengingat.

Kemampuan mnjelaskan teori yang pelik secara detail juga belum termasuk kgiatan brpikir, meski kemampuan ini sangat brguna dalam proses berpikir. . Begitu pula kemampuan memaparkan pemikiran seorang pakar dengan bahasa yang rumit berbelit-belit, juga bukan termasuk berpikir. Kegiatan ini baru sebatas pengerahan kecerdasan untuk menerangkan, memahamkan dan membela sebuah pendapat atau teori.

Lalu apakah berpikir itu? Wallahu a’lam bish-shawab. Secara sederhana, berpikir merupakan kegiatan yang menggabung kecerdasan, pengalaman dan nilai kebenaran untuk memperoleh kesimpulan atau sudut pandang baru. Termasuk kegiatan brpikir adalah eksplorasi prinsip-prinsip, pelajaran, nilai & kearifan dari berbagai hal yang terhampar di langit & di bumi; baik peristiwa alam maupun perilaku manusia.

Melalui kgiatan berpikir, secara bertahap ia akan memahami hakekat dari segala sesuatu. Berpikir menggabung kecerdasan, pengalaman & nilai. Ini berarti, anak memerlukan perangkat ilmu yang memadai agar mampu berpikir dengan baik. Semakin baik bekal pengetahuannya, semakin memudahkan baginya untuk memperoleh pelajaran. Tetapi bekal pengetahuan saja tidak cukup untuk membuat kita mampu meraih banyak pelajaran. Perlu keterampilan berpikir!

Berpikir yang baik juga memerlukan pengalaman. Bukan hanya dalam pengertian semakin berpengalaman dalam berpikir semakin terampil ia memetik pelajaran & menghasilkan kesimpulan. Lebih penting dari itu adalah, pengalaman merupakan bahan berpikir. Ia menjadi bagian dari pertimbangan-pertimbangan dalam merumuskan kesimpulan.

Tetapi bukankah dalam sebagian perkara kita tidak bisa menghimpun pengalaman dulu baru memikirkannya? Soal kematian misalnya, termasuk kebangkitan sesudah mati. Kita tidak bisa menunggu mati dulu baru brpikir. Begitu pula soal surga & neraka. Ini berarti bahwa pengalaman saja tidak cukup. Hanya mengandalkan pengalaman, bisa menjatuhkan anak-anak kita pada kesesatan berpikir sehingga berimbas pada kesesatan berkeyakinan.

Pengalaman sendiri bukanlah hukum. Tapi pengalaman memudahkan kita mngambil pelajaran. Kita memetik prinsip-prinsip dari pengalaman itu. Agar berpikir mengantarkan kita pada kebenaran, kebaikan dan keyakinan yang lebih kuat kepada Tuhan, anak-anak memerlukan bimbingan dari seorang guru. Bukan hanya pengajar. A real guru, not only a teacher.

Bimbingan tersebut berkait dengan keterampilan berpikir maupun nilai-nilai yang harus memandu dalam berpikir. Seorang pembimbing bisa mengasah kepekaan anak untuk memantapkan tujuan, merumuskan alasan yang benar-benar baik bagi tindakannya, maupun mengambil “pengalaman” melalui metafora atas apa yang ada di sekeliling kita.

Satu hal lagi. Berpikir tidak harus rumit. Mengambil pelajaran dari peristiwa sehari-hari, bukanlah proses berpikir yang rumit. Kata-kata yang rumit kerapkali muncul bukan dari peliknya masalah yang kita pikirkan, tetapi karena keruwetan cara berpikir kita. Jika kita mengajarkan berpikir sebagai hal yang ruwet, maka anak-anak akan enggan berpikir. Jika kita mengajarkan berpikir sebagai hal yang ruwet, maka anak-anak akan enggan berpikir. Padahal cara berpikir seharusnya sudah kita asah semenjak anak-anak berusia empat tahun. By @kupinang

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: