Sebuah catatan seorang pejuang untuk para pejuang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, kaum muslimin yang berbahagia dimanapun berada, ketika bulan ramadhan menjelang dan seperti biasa kita melihat banyak perubahan terjadi dimana-mana dalam berbagai hal. Ketika hari hari awal pastilah masjid penuh sesak dengan tarawihan dan mushola ramai manusia dendangkan tilawah, tadarusan Al-Qur’an

Faktanya ketika Ramadhan berlalu kembali sepilah masjid masjid. Amat sedikit sekali orang yang shalat berjamaah di masjid. Padahal jelas Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda dalam sindiranya bahwasanya seorang muslim yang shalat berjamaah maghrib saja di masjid dia adalah orang munafik. Maka dari itu mari kita istiqomahkan shalat berjamaah di masjid. Janganlah jadi bagian dari orang orang yang di sindir Rasulullah sholallahu’alaihi wasallam yaitu orang yang munafik/malas shalat berjamaah di masjid.

Wanita wanita pun mulai tutupi aurat dengan hijab, artis artis atas apa yang mereka siarkan mulai bertanggung jawab. Bahkan sinetron romeo juliet berganti sofa marwah saat ramadhan, layar kaca pun tak tertinggal siar pengajian. Film gairah cinta di pending jadi tasbih cinta agar ma’ruf, judul nikmatnya pacaran berganti jadi indahnya ta’aruf. Sering aku tersenyum geli melihat tingkah polah ummat Islam, tanda mereka masih berkutat dengan pemikiran dzolim, tapi ramadhan memang ajaib

Ia membuat perubahan 180 derajat, sayangnya pasca ramadhan banyak yang kembali bejat, ini pula yang sebabkan luka tak terperi bagai tersulut. Perubahan dimata ternyata belum sampai di akar hati, sekulerisme memang menarik ummat ke jurang kegelapan yang paling dalam. Tanpa menyisakan secercah sinar yang bahkan cukup untuk mengurai air mata, sekulerisme ajarkan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala pergi meninggalkan manusia dan tak lagi menghitung amalan selain pada ramadhan yang mulia

Bagaimana bisa seorang muslim tahankan apa yang halal baginya karena Allah subhanahu wata’ala di waktu siang, tapi justru berbuka dengan apa yang Allah haramkan. Dia menahan makanan minuman karena Allah subhanahu wata’ala di siang hari, namun mereka berbuka dengan riba yang Allah benci. Ummat memang berbahaya penuh dengan hal hal yang tak terduga, ia bisa jadi selimut pelindung dari dingin malam dan panasnya siang

Juga ia dapat menjelma jadi monster paling menakutkan, membenamkan kuku kuku ucapannya dalam hatimu terdalam, menghujamkan belati beracun di setiap bagian tubuhmu yang mampu ia jangkau. Menunjukkan cahaya bagi mereka yang terlalu lama berjalan dalam kegelapan sama saja memberinya rasa sakit. Sebagian pejalan dalam gelap ini lebih suka berada di dalam kedzoliman ketimbang bermandikan cahaya illahi

Mungkin dalam hati kecil mereka rindukan terang Allah, namun syaithon lakukan tugasnya dengan baik sehingga mereka lebih suka dalam kegelapan. Mereka lupa lebih terhormat mati di dalam terang daripada hidup dalam kegelapan,ya setidaknya kau dilihat dan diingat. Dalam kegelapan mungkin kau nyaman, namun tak seorangpun tahu eksistensimu walau kau hidup juga ingat namamu

Aku adalah hamba Allah Maha Suci, cintaku pada langit tak berarti aku tak menginjak bumi, justur langit mengajarknku denganan hujan yg membasahi bumi. Menumbuhkan benih yang bersirahat dalam gelap mati, cinta kepada Allah subhanahu wata’ala selalu hadiahkan 2 hal pada hamba, yaitu lidah dan air mata. Aku selalu berdoa semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan semua pengemban dakwah mampu merengkuh kemuliaan ramadhan, & karunia yang Allah limpahkan di dalamnya

Karena setiap perkataan mereka bagaikan penyambung nafas dunia, menghindarkan ummat dari kerusakan sehabisnya. Mungkin umat bagaikan laron yang tak suka dihalau api, mungkin dia akan menggigit tangan yang menghalaunya dari kecelakaan. Namun bukankah itu kenikmatan dakwah? yang juga dirasakan junjungan kita Nabi besar shalallahu’alaihi wasallam, penghulu segala kebaikan

Bilakah pantas seorang manusia berkeluh kesah terhadap dakwah manakala tauladan kita Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersemangat menjalankannya? Benar logam akan berkarat seiring waktu, namun emas tetaplah emas, waktu adalah satu-satunya pemisah antara keistiqomahan dan yang ditinggalkan. Wassalamu’alaiku warahmatullahi wabarakatuh By @DhikaWidayat

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: