Branding

Nama/atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap dan kemasan) dengan maksud mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu, dengan demikian membedakannya dengan barang atau jasa yang dihasilkan oleh kompetitor” (David Aaker) .. | itulah definisi dari BRAND. Kenapa suatu produk perlu diberi nama (brand)? Membangun reputasi adalah membangun merek, itu yang penting untuk masa depan bisnis.

Gula di warung tidak diberi merek, begitu juga minyak, telur dan sayuran, semua tanpa merek, mereka bersaing di persaingan generik. Persaingan generik akan menyeret kita ke persaingan harga, smentara harga adalah sumber pemasukan perusahaan, dalam jangka panjang tidak bagus. Fungsi merek adalah pembeda, yang membedakan antara produk dari produsen satu dengan lainnya. Produk generik tidak bsa dibedakan antara produsennya.

Kalau dibedakan saja tidak bisa, gimana bisa membangun LOYALTY?. Padahal loyalitas penting agar konsumen membeli ulang. Merek juga berguna untuk membangun persepsi korporasi, brand yang terkenal mencerminkan perusahaan yang besar. Merek juga mencerminkan kualitas, seperti : Mobil buatan Eropa akan mencerminkan kualitas yang bagus. Merek juga dapat menjadi ‘pengikat’ antar produk yang kita hasilkan. Seperti ‘Sony’ konsumen akan melihat mereknya sebagai produk elektronik.

Ada banyak strategi merek, seperti Line Extension. yaitu dengan memperbanyan varian produk. seperti Fanta, punya rasa orange, mangga, dll. Brand Equity adalah seperangkat ASSET dan LIABILITAS yang dapat menambah atau mengurangi nilai dari suatu produk (Aaker).Elemen dari ekuitas merek adalah : Brand Awareness, Brand Loyalty, Perceive Quality, Brand Association dan Other brand assets

Brand Awareness : Tingkat ksadaran konsumen terhadap merek | tingkat pling tinggi adalah Top of Mind, yaitu ktika merek disebut pertma kali. Misal : Sebutkan merek obat sakit kepala!. ketika responden menjawab : Bodrex, maka Bordex adalah Top of Mind. Brand Loyalty adalah tingkat keterkatikan merek dengan pengguna | Level tertinggi adalah brand religion, dimana merek menjdi keharusan

Contoh Brand Religion adalah Pengguna Harley Davidson dimana saking loyalnya mereka rela menato badannya dengan merek HD. Brand Association adalah keterkaitan atribut merek dengan konsumen, semakin kuat, maka semakin kuat pula posisi dipasar. Contoh : Indomie Goreng memiliki asosiasi Mi Goreng Instan yang paling enak, maka posisinya di pasar menjadi nomor 1.

Intinya adalah membangun merek harus dilakukan secara sistematis, tidak bisa instant, ibarat membangun bangunan yang kokoh. Membangun bangunan, jika fondasinya kuat, maka akan bertahan dalam kondisi buruk sekalipun, jika dibangun secara instan, mirip RUMAH KARTU. Rumah Kartu bisa dibangun secara cepat, tapi ketika tertiup angin, maka robohlah semuanya, begitulah merek yang dibangun secara instan =Kesimpulan= Terkadang aset tak berwujud (merek) lebih mahal dari aset berwujud (bangunan, mesin,dll), maka bangunlah merek yang kuat.

***SEKIAN, Terimakasih atas perhatiannya*** By @fitrianto2001

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: