Teguran Menkominfo pada bintang bermasalah

Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring ingin bertemu dengan Pelawak Olga Syahputra untuk menegurnya. “Saya ingin ketemu Olga. Undang bintang-bintang yang tidak benar bicaranya itu,” kata Tifatul. Menurut Tifatul, setiap orang bebas melawak tetapi tidak boleh melecehkan lawan mainya atau berbau SARA. Lawakan Olga dan teman-temanya, lanjut dia, banyak mengandung celetukan-celetukan bermasalah.

“Kadang ucapannya kasar, saling menghina bahkan mengarah ke vulgar meskipun konteksnya bergurau,” ujarnya. Apabila kementerian sampai melakukan teguran, kata Tifatul, maka sanksinya bisa sampai tidak boleh siaran. Namun, dia lebih senang mengedukasi tayangan dan pengisi acaranya untuk menciptakan materi yang baik daripada menjatuhkan sanksi.

Tifatul berencana jemput bola dengan mendatangi produser dan artisnya. Wakil Ketua Tim Pemantau TV Ramadhan 1431 H dari Majelis Ulama Indonesia , Imam Suhardjo mencatat beberapa tingkah laku Olga di televisi. Tanggal 26 Juli 2012 di komedi situasi Pesbukers ANTV misalnya terjadi adegan pelukan sampai jatuh antara Olga dan Jesica. “Padahal penonton sudah mengingatkan dengan meneriaki ”batal”, kata Imam.

Ocehan dan tingkah laku yang serupa juga dilakukan Olga di acara Waktunya Kita Sahur yang ditayangkan Trans TV. Anggota KPI bidang konten siaran, Nina Armando, juga mengatakan tayangan “Waktunya Kita Sahur” paling banyak diadukan oleh masyarakat. Tayangan dengan artis pendukung acara Olga Syahputra itu sudah mendapatkan surat peringatan, namun tetap saja tidak ada perubahan.

”Tahun lalu namanya Saatnya Kita Sahur, setelah diberi peringatan, namanya ganti tahun ini,” kata Dosen Ilmu Komunikasi UI ini. Olga pernah ditegur KPI lantaran dianggap melakukan pencemaran agama di siaran langsung Pesbukers di Antv pada episode 19 Juni 2012. Saat itu ada pemirsa yang menelepon ke studio dan diterima Julia Perez, salah seorang pemain di acara itu, yang mengucapkan assalamualaikum.

Olga juga pernah ditegur saat mengisi acara Dekade, HUT Trans TV Ke-10, pada 15 Desember 2011. Dalam candaannya dengan komedian Sule, Olga bercanda tentang suster ngesot yang diperkosa sopir angkot. “Olga kenapa lu jadi suster ngesot,” tanya Sule kepada Olga. “Sepele, diperkosa sopir angkot,” jawab Olga. Setidaknya ada 3 hal krusial dalam celetukan Olga tsb,

a) Ucapan salam secara syari’at wajib dibalas denga salam, Olga tidak… b) Secara kontekstual, Olga melakukan penggiringan presepsi/kesan Islam identik dengan miskin, malas dan pengemis…c) Celetukan Olga merendahkan agama dan kondisi sosial kemayarakatan ini secara normatif melanggar etika penyiaran…

Mengapa Olga sering melempar celetukan yang bertendensi melecehkan kelompok tertentu? Pertama, Olga tidak pernah mau belajar tentang humor sebagai filsafat seni pembebasan bukan sekedar membuat tertawa. Dorongan ingin cepat membuat orang tertawa seperti menjadi target kepuasan bawah sadar Olga sebagai pelawak. Ini keliru. Dorongan ini yang melahirkan spontanitas dalam bentuk celetukan. Dorongan ingin cepat2 buat orang tertawa ini seperti perangkap..

Sebenarnya Olga sudah sering masuk perangkap yang diciptakan sendiri, mungkin juga orang disekitarnya mbiarkan karna raih untung. Kedua, Olga lakukan itu karena ada pembiaran dari stasiun televisi. Ini terjadi karena Olga ikon yang dapat datangkan untung. Industri TV tidak pernah mau sensitif pada pelecehan2 seperti ini. Selama menguntungkan, apapun dilakukan, eksploitasipun dimulai

Dalam konteks ini, gerakan publik melawan langsung industri TV dan pelawak seperti ini menjadi efektif memberi efek jera. Apalagi untuk hal-hal yang secara religius di anggap sakral, seharusnya pelawak dan industri TV lebih sensitif. Ketiga, ada pembiaran dari penonton/pemirsa. Ini terkait dengan kemamuan literasi media publik yang sangat rendah. Tiga sebab tersebut saling kuat menguatkan tapi saling tidak untung menguntungkan, terutama bagi publik.

Kasus Olga dalam Fesbukers, akan jadi titik baru 3 hal tersebut saling menguatkan. Diduga Olga katakan ‘Minta maaf, tidak sengaja.. Publikpun memaafkan dan melupakan dan tunggu saja, akan muncul kesalahan serupa sampe lama-lama kita terbiasa…Olga bertambah kaya dari bisnis tawa, industri TV makin sejahtera karena iklan melimpah ruah, penonton tetap menderita…

Dalam tinjaun filosofis, Olga dan pelawak lain, jauh dari profile seorang Komedian. Mereka lebih pas disebut pelawak. Pelawak cuma bisa melawak lewat sajian humor yang dangkal, itulah sebabnya perlu alat bantu berupa aksi kekerasan & pelecehan. Menjadi pelawak tidak perlu membaca, berdiskusi atau berkontemplasi, cukup dengan tidur ngorok saja sudah jadi pelawak…

Beda dengan komedian, perlu proses pematangan gagasan sebab komedian punya sasaran dan misi dalam memberikan humor..Seorang komedian nyaris tidak pernah keliru sebab humor merupakan kemasan yang merepresentasikan kepentingan publik..Menjadi kaya bukanlah tujuan seorang komedian, karena komedian itu semacam ekspresi seni yang mencerahkan…Saya tegaskan, Olga pelawak bukan komedian apalagi seniman… Tidak ada nilai seni dalam humornya..

Kalau tidak bisa berubah, karena itu style melawak Olga, silahkan melawak di ruang terbatas, jangan televisi sebagai domain publik. Menjadi pelawak dengan cara menghina itu juga korupsi makna, moral dan sosial, ini jauh lebih bahaya dari pada korupsi anggaran. Public figure sepatutnya memberikan suatu hiburan yang layak bagi viewernya. bukannya memberikan rasa tidak nyaman seperti ini. Di indonesia banyak sekali komedian bagus. dan semuanya tau aturan dan bisa diatur. Olga itu bukan sekali dua kali ditegur KPI. Intinya.. lekaslah bertobat,.

Sejarah filsafat komedi bisa dirujuk sejak zaman Aristoteles. Pada zaman Yunani kuno, komedi sebagai bentuk kritik. komedi semacam aksi protes terhadap kebijakan pemerintah yang disampaikan penuh humor & kelucuan. Karena itu, komedian itu berat. Karena itu juga, komedi masuk dalam kategori ‘seni-politik’ mirip ‘komunikasi-politik’. Berpolitik melalui seni menghibur orang..

Abad 18 penulis Jerman Lichtenberg mengatakan : ‘Semakin tau Anda komedi, semakin Anda menuntut kebaikan’. Komedi alat kritik. Refleksi dari filsafat komedi itu dapat dilihat dalam tayangan ‘Sentilan Sentilun’ yang ditayangkan Metro TV…Komedi selanjutnya menjadi gerakan kesenian untuk menghibur diri kaum marginal dari sistem negara yang tidak adil…

Dalam buku ‘Humor in The Arts’, Allan Calley, nyatakan komedi di Inggris berkembang sebagai sarana kritik sejak abad 16..Komedi selanjutnya berkembang dalam berbagai teknik menghibur, tapi tetap memegang prinsip kritis dan mendidik…Komedian Ben Jhonson dalam buku ‘Man Out of His Humor’ membedakan 2 bentuk komedi, melalui kata-kata dan tingkah laku…

Komedi dengan kata, biasa dan banyak di Indonesia, mulai dari Srimulat sampai Warkop, gunakan teknik menghibur dengan kata..Komedi dengan tingkah laku, sulit (belum ada) di Indonesia, teknik ini butuh keahlian seperti aksi Mr. Bean…Dua jenis kemodi itulah yang berkembang dan menjadi dasar komedi di Eropa. Modelnya beda, tapi prinsipnya sama ; SATIRE...

Dengan demikian, komedi terkait erat dengan pertentangan kelas. Menjadi komedian itu menjadi orang yang cerdas dan kritis. Komedi merupakan pelarian dari satu realitas yang kejam ke realitas yang menghibur. Sukacita, itu rasa mutlak dalam sebuah komedi. Sukacita dalam komedi hal mutlak yang kadang bersifat ekstrim. Saking ekstrimnya saat terhibur orang bisa sambil menangis..

Jika ada komedian yang bisa membuat orang tertawa, terhibur sambil menangis, itulah puncak keberhasilan komedian…Di Indonesia, komedi biasa disebut lawakan sudah ada dan melekat dalam hiburan rakyat seperti ludruk, ketoprak, lenong, wayang dsb. Sejumlah group komedi yang eksis di Indonesia al : Kwartet Jaya, Srimulat, Surya Group, Pancaran Sinar Prambors, Warkop DKI..

Mereka besar bukan karena media, tapi karena jiwa komedi yang mengalir dalam tubuhnya, mereka terkenal karena kualitas komedinya. Komedian tempo dulu melucu dan menghibur nyaris tanpa unsur muatan penghinaan/pelecehan/ejekan dan kekerasan..Perhatikan gaya komedi Ateng, Bagyo. Mang Udel, Kang Ibing, Us Us hingga Benyamin, nir hinaan dan kekerasan pisik….

Atau Krisbiantoro komedian yang bisa humor dengan bahasa Perancis, Ebet Kadarusman komedinya bahasa Inggris muncul di Australia. Nama komedian itu hilang seiring media hiburan menjadi industri yang massif, terutama televisi…Televisi tidak lagi selektif dan reflektif sajikan komedi berselera tinggi. Prinsip instan short cut lahirkan pelawak murahan. Bandingkan dengan pelawak (bukan komedian) Parto, Sule, Aziz apalagi Olga yang dibesarkan oleh industri televisi…

Komedi tidak lagi mengajak orang berfikir kritis, tapi merusak. Ini yang disebut komedi slapstick, komedi berbasis kekerasan. Jika ada negara yang jadikan kekerasan, ejekan dan hinaan sebagai bahan komedi, mungkin Indonesia ada di urutan pertama..Garin secara sinis bahkan berkata, ‘Kita tidak tahu untuk apa dan kenapa kita tertawa lihat tayangan itu?’…Cara tertawa merupakan indikator terbaik menilai orang. Jika kita tertawa mlihat pelecehan & kekerasan, maka itulah kualitas kita.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: