Keluarga teladan

Belajar sedikit tentang Keluraga yang dicintai Allah subhanahu wata’ala”, yaitu pelajaran yang dapat diambil dari keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissallam. Nabi Ibrahim dengan istrinya, Siti Hajar & anaknya Ismail-di samping istri kedua Siti Sarah & anaknya Ishaq- adalah contoh keluarga teladan. Nabi Ibrahim ‘alaihissallam & keluarga adalah keluarga yang berhasil membangun kehidupan atas dasar keyakinan kepada Allah subhanahu wata’ala. 

Mereka juga dapat membangun idealisme dan cita-cita yang sangat tinggi disertai dengan pengorbanan yang tanpa mengenal pamrih, kecuali hanya mengharap ridha Allah subhanahu wata’ala. pilar-pilar yang dibangun oleh keluarga teladan ini diungkapkan oleh Allah subhanahu wata’ala secara perinci pada QS ash-Shaffat [37]: 99-112. Berdasarkan QS 37: 99-112 tsb, setidaknya ada 5 pilar yang dibangun oleh keluarga teladan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam yang dapat kita ambil pelajaran.

  • Pertama, memiliki visi & misi yang jelas, yaitu saling menjaga & saling memelihara dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala. Nabi Ibrahim sebagai sang ayah pergi berdakwah ke berbagai pelosok untuk menyebarkan risalah Allah subhanahu wata’ala. Siti Hajar, sang istri, dengan ikhlas mendukung kegiatan ini sekaligus memberikan dorongan dan doa restunya agar perjalanan suaminya mendapatkan keberkahan Allah subhanahu wata’ala 
  • Kedua, selalu berdoa dan memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar mdapatkan anak & keturunan yang saleh & salehah. Keturunan yang shaleh & shalehah ini berfungsi sebagai pewaris dan penerus perjuangan orang tuanya. Tentu, mereka diharapkan juga mampu mendirikan shalat dengan sebaik-baiknya.
  • Ketiga, membangun keyakinan terhadap turunnya pertolongan Allah subhanahu wata’ala yang dilandasi dengan kegigihan berusaha & berikhtiar. Sebagai contoh, ketika mencari air untuk memenuhi kebutuhan anaknya yang masih kecil (Ismail) Siti Hajar berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Bukit Marwah. Dengan izin-Nya, akhirnya keluarlah mata air yang tidak pernah diduga sebelumnya, yaitu air zamzam. 
  • Keempat, membudayakan diskusi & musyawarah antara sesama anggota keluarga sehingga timbul pemahaman & pengertian yang baik. Sebagai contoh, ketika bermimpi untuk menyembelih anaknya (yang diyakininya sebagai perintah Allah subhanahu wata’ala). Nabi Ibrahim dalam implementasinya tetap berdialog dan berkomunikasi dengan anaknya. Lalu, keduanya melaksanakan ketentuan Allah subhanahu wata’alaini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. 
  • Kelima, membangun semangat berkorban untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah subhanahu wata’ala & kecintaan kepada sesama manusia.

Inilah beberapa pilar utama dalam membangun keluarga yang kuat yang telah dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissallam.. untuk dijadikan pelajaran dan suri teladan orang-orang yang beriman.. yang menginginkan keluarganya bahagia dan sejahtera atas dasar ketundukan & kepatuhan kepada Allah subhanahu wata’ala.”Sesungguhnya telaanh ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim & orang orang yang bersama dengan dia.” (60: 4) 

Semoga kita semua dapat membangun sebuah keluarga yang dicintai Allah, yang dapat meneladani keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissallam. Jadikan keluarga kita sebagai basis utama kita dalam penanaman nilai2 nilai agama, akhlak, & kecerdasan jasmani serta rohani. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin. Wallahua’lam bi ash shawwab.

By @hafidhuddin

  1. #1 by 3yuwono on September 2, 2012 - 3:18 PM

    gratefully, am not perfect please your advice and correction

  1. visis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: