Yang Berat Bagi Rasulullah

 “Adakah hari dalam hidupmu Ya RasulaLlah”, ujar ‘Aisyah di kala mesra berdua, “Yang lebih berat daripada kepedihan Perang Uhud?”. Dalam senyum Sang Nabi menjawab tanya Al Khumairaa, “Hari itu adalah ketika Jibril datang kepadaku membawa Malaikat Akhsyabain setelah orang-orang Thaif menghinakan & mengusirku dari kota mereka.

Kala itu Jibril berkata, “Ya RasulaLlah, inilah Malaikat penjaga gunung; perintahkanlah apa yang kau suka, sebab telah terizin baginya menimpakan kedua bebukit raksasa pada mereka yang telah menista & menyakitimu!” Akupun menjawab, “Tidak wahai Jibril; sungguh aku berharap, kelak dari sulbi & rahim mereka akan lahir keturunan yang mengesakan Allah.”

Betapa dalam kisah ini memberi ujar pengajaran; apa yang berat di hidup Sang Nabi.  Yang berat baginya bukan lemparan batu; bukan jua kala ruku’ leher dijerat, bersujud kepala diinjak, & punggung disiram kotoran. Yang berat bukan caci fitnah & cela makian; bukan tuduhan gila, penyihir, & dukun; bukan juga 3 tahun kefakiran dalam pemboikotan.

Apa yang berat baginya? Yang berat bagi kekasih Allah itu adalah; kala wewenang membinasakan orang-orang yang menganiaya dirinya digenggamkan penuh-penuh. Yang berat bagi kesayangan Ar Rahman itu adalah; ketika dalam gemuruh sakit lahir & batin, lalu peluang pelampiasan dibentangkan. Terujilah jiwanya, terbuktilah cintanya, tertampaklah kemuliaannya; dia menolak dengan harapan yang memuncak atas kebaikan kelak. 

Dia sebenarnya terizin, dihalalkan, & diridhai; tuk berkata “YA” lalu gemuruh runtuh si gunung menimpa musuh ‘menghibur’ hatinya. Tapi keputusannya; “Tidak” & harapannya; “Keturunan mereka beriman”, telah jadi bukti bagi namanya yang terpuji di langit & bumi. Bahwa dia ingin diutus sebagai pembawa rahmat & bukan penyebab ‘adzab; Allah bahkan nyatakan bahwa dialah rahmat bagi semesta. 

Bahwa dia datang dengan kesediaan menanggung derita ummatnya, amat menginginkan kebaikan bagi mereka, serta lembut & welas-asih. Bahwa dia berada di atas akhlaq yang agung; baik dalam akhlaq pada Rabbnya, akhlaq pada dirinya, pada sahabat maupun musuhnya. Jernih Nabi menyebut hari terberat; ketika Jibril tawarkan pembinasaan musuh. Kala kemuliaan dakwah memenangi batin yang gemuruh. 

Hari-hari di Thaif yang mengharu biru; tentang cinta yang takkan diragu. mengaku meniti jejak beliau {Jauh.. Betapa jauh..} B y @salimafillah Silahkan buat yang mau download rekaman kajian MajelisJejakNabi>>  http://www.majelisjejaknabi.com/p/download.html?m=1

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: