Motivasi penghancur karakter

Sedih ketika mendengar seorang guru memotivasi, “MESKIPUN orangtua kalian HANYA seorang petani, kalian harus tetap hormat.”, Sepertinya memotivasi, tetapi kalimat ini sesungguhnya menghancurkan kebanggaan rasa hormat dan kebanggaan anak pada orangtua. Kalimat motivasi yang membanggakan manusia dari apa yang dicapai, bukan jerih-payah & tanggung-jawab, efektif untuk menghancurkan budaya karakter.

Miris ketika mendengar seorang guru berkata, “Anak-anak, kalau kalian rajin belajar, kalian akan menjadi orang sukses. Bukan CUMA petani.”, “Kalau kalian pintar, kalian bisa menjadi pejabat tinggi. Bukan SEKEDAR pegawai rendahan.” >> Seakan kemuliaan manusia trletak pada jabatan. Di sekolah semacam itu, pantaskah mereka bicara karakter? Sedangkan kegigihan, integritas, sikap mulia justru mereka hancurkan sejak dini.

Di sekolah yang buruk seperti itu, pantaskah kita berharap lahirnya orang-orang shalih yang mencintai atas dasar iman? Sedangkan Para gurunya justru menginspirasi anak didiknya untuk lebih mencintai dunia yang tak peduli bagaimana mendapatkannya. Bukan iman. “Bayangkan! Betapa bangga orangtua kalian jika kalian menjadi orang-orang sukses. Kalian menjadi direktur perusahaan atau gubernur.”

Sedih mendengar motivasi, “Anak-anak, apakah kalian mau menjadi orang biasa? Apakah kalian mau hanya menjadi seorang tukang kebun?”, Maka, bagaimana mungkin anak-anak itu akan bangga & hormat kepada bapaknya yang “orang biasa” jika sekolah belajar merendahkannya? Bagaimana mungkin anak-anak akan hormat kepada guru sedangkan para guru sendiri tak merasa bangga dengan profesinya?

Maka, bgaimana mungkin anak-anak itu akan brsedia berpayah-payah jika semenjak awal mereka diajari untuk merendahkan kerja-keras & kesungguhan? Maka, bagaimana anak-anak akan belajar memuliakan sikap rendah hati jika mereka diajari untuk rendah diri? Maka, sdh seharusnya jika anak-anak itu malu hanya karena penampilan tak sama kerennya dibanding temannya. Malu hanya karena HP dianggap jadul.

Sudah seharusnya itu terjadi karena guru mengajarkannya. Mereka merasa memotivasi, tapi sebenarnya menghancurkan kepribadian. Mereka mnghancurkan mental anak karena para guru itu telah silau memandang dunia. Trlebih para ustadz pun lebih menghargai kekayaan daripada kmuliaan. Di saat seperti itu, apakah yang dapat kita harapkan untuk anak-anak kita? Apakah yang dapat kita nantikan dari sekolah yang rapuh kemuliaan?

Lalu, dapatkah kita berharap lahirnya orang biasa yang brperan besar dalam sejarah semacam Abu Dzar Al-Ghifari, Bilal, Abu Hurairah & lainnya? Rasanya jauh…. jauh…. Amat jauh, Tuan-tuan.

By @kupinang

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: