Atasi Macet Ibukota

Jujur aku kagum sama infrastruktur & transportasi di Bangkok. Padahal secara umum, masyarakatnya mirip banget sama Jakarta . Maksudnya, di Bangkok kesejahteraan masynya gak trlalu beda sama Jakarta. Ada yang naik Ferrari, juga banyak yang tinggal diperumahan kumuh. Penduduk Bangkok sekitar 10 juta jiwa, mirip dengan penduduk Jakarta. Bedanya, kalo siang Jakarta bertambah jadi 14 juta (komuter bodetabek).

Tahun 2010, jumlah mobil di Bangkok sekitar 2.5 juta unit, sementara di Jakarta 3.2 juta kendaraan. Dulu Bangkok adalah kota terpadat lalulintasnya di dunia dengan tingkat polusi ketiga terparah di dunia. Kini Bangkok merupakan salah satu kota terbaik di Asia yang memiliki sistem perencanaan transportasi terpadu terbaik.

Dua dekade lalu, Bank Dunia meminta bantuan pakar dari Jerman untuk mengevaluasi parahnya permasalahan transportasi di Bangkok. Tahun 1990, pertambahan kendaraan di Bangkok 524 unit mobil/motor perhari. Bandingkan dengan di Jakarta kini 216 mobil & 1068 motor! Hasil evaluasi Bank Dunia: Penambahan ruas jalan cuma sebabkan kepadatan bertambah parah karena dorong orang untuk gunakan kendaraan pribadi.

Untuk kurangi kepadatan jalan, perlu menyediakan sarana transportasi massal berupa subway, skytrain, dan angkutan air.  Pengelolaan transportasi ini menjadikan kunci jaringan di BMA (Bangkok metropolitan area) & sekitarnya menjadi link & match. Sebenarnya, kalo bicara perencanaan, Jakarta juga punya PTM (Pola Transportasi Makro) yang merupakan integrasi beberapa sistem transportasi.

Pola Transportasi Makro Jakaeta terdiri dari Bus Rapid Transit (BRT), Light Rapid Transit (LRT), Mass rapid Transit (MRT). Bedaannya, proyek jalan tol di Bangkok sudah dimulai sejak 1981, sementara BRT/Busway di Jakarta baru 5 tahun. MRT malah baru akan mulai. Pada 1981, panjang jalan tol di Bangkok 27,1 km. Tahun 93 tambah 38,5 KM & tahun 98 tambah 32 KM. Total kini jalan tol Bangkok 97,6 KM 

60 % lahan di Bangkok milik Raja. Jadi tidak ada kendala pembebasan lahan untuk jalan tol. Berbeda dengan Jakarta yang milik pribadi. Salah satu kendala utama panambahan ruas jalan di Jakarta adalah pembebasan lahan yang harganya sangat tinggi. Sering kali diatas NJOP. Selain infrastruktur jalan, Bangkok juga siapkan moda transportasi massal: Skytrain (kereta layang) & Subway (kereta bawah tanah).

Salah satu jagoan transportasi di Bangkok adlah Sky Train (Bangkok Mass Transit System (BTS) yang dibangun 11 tahun lalu. Skytrain memiliki panjang lintasan 40 km dengan 32 stasiun. Kereta monorail tsb melintas 20 meter di atas kota Bangkok s/d airport. Di Jakarta, pembangunan monorel terbengkalai karena pendanaan. ‘Untung’nya itu semua duit swasta. Jadi gak ada uang rakyat yang sia2.

Swasta yang awalnya mau biayain monorail, hengkang setelah pemprov tolak di’fait a compli’ bayar subsidi yang kemahalan. Gak worth it. Ini Skytrain bangkok. Dibawahnya si tetep aja macet juga, walopun bergerak…karena tertib :D Selain Skytrain yang ‘melayang’ 20 meter diatas tanah, BKK juga punya Mass Rapid Transport (Subway) yang sudah ada sjk 6 tahun lalu.

Subway adalah kereta massal bawah tanah dengan jalur sepanjang 21 km ini digarap, setelah pembangunan Skytrain/BTS rampung. Di Jakarta, MRT baru akan ground breaking di bulan May ini, dengan koridor pertama Lebak Bulus-Bundaran HI. MRT Jakarta diharapkan mulai beroperasi pada 2016 & diprediksi mampu menampung sekitar 960.000 penumpang. MRT Jakarta akan terbangun underground (bawah tanah) dan elevated (melayang).

Pertanyaannya: MENGAPA BANGKOK BISA MAJU TRANSPORTASINYA, SEMENTARA JAKARTA TERTINGGAL SELAMA BELASAN TAHUN? Dari ‘studi’ amatir saya, ada beberapa penyebab yang dirasa bisa jadi rujukan kendala percepatanan moda transportasi Jakarta. Di Bangkok, JELAS SEKALI KOMITMEN PEMERINTAH PUSAT, KERAJAAN & PEMDA KOTA BANGKOK dlm mencari jalan keluar kemacetan.

Di Jakarta, Pemerintah Pusat (kementrian PU, Perhub, dll) terkesan ‘setengah hati’ dalam atasi masalah kemacetan di Jakarta. Contoh mudah: Tim khusus untuk atasi kemacetan yang langsung dipimpin wapres. Sudah 8x miting, tetap tanpa keputusan berarti :( Ada 2 alasan mendasar: Yang pertama, Pemerintah Pusat ‘merasa’ itu masalah pemprov. Jadi tidak anggap itu prioritas. 

Contoh termudah adalah saat zaman Ali Sadikin jadi gubernur, seorang staf usul untuk bikin subway, malah dilempar asbak. Ide MRT yang menghangat di era presiden Mega, tetap saja tidak tereksekusi. Sementara berharap Pemprov eksekusi, DUIT DARI MANA?? Sekedar mengingatkan, di Bangkok, Skytrain, Subway, waterway & penambahan infrastruktur, SEMUA DIBIAYAI PEMRINTAH PUSAT. Kendala lain, BANYAK SEKALI PERATURAN YanG MEMBUAT PEMPROV TiDaK BiSa MANDIRI ATASI MACET. Contohnya:

Fakta ‘unik’ Jakarta: pertumbuhan kendaraan sekitar 10 % per tahun. Sementara, penambahan ruas jalan hanya 0,01 %! Sangat tidak seimbang. Kenapa cuma 0,01 % & Bangkok bisa cepat?. Di Bangkok 60% milik raja. Di jakarta milik pribadi. Pembebasan lahan tau sendiri bisa makan waktu gak jelas. Padahal masalah pembebasan ini problem dasar saat akan ada pelebaran jalan, pembuatan jalan bebas hambatan pembuatan MRT.

Makanya solusi pertambahan jalan di jakarta dilakukan keatas. Misalnya: 2 jalan nontol (antasari & casablanca) & 4 jalan tol baru. Yang keren lagi di bangkok adalah jalur waterwaynya… Walopun gak bersih2 banget, tapi emang sangat berguna buat sarana transportasi. Di Jakarta, karena bang Yos kekeh, sempet ada waterway. Sayang gak jalan, karena ketinggian air yang naik turun & jembatan yang kerendahan :D 

Di Bangkok juga ada ERP (elctronic Road Pricing) Charging buat kendaraan kalo masuk daerah tertentu. Seperti di Singapore, relatif efektif. Di Jakarta, ERP rencananya akan jadi gantinya 3in1. Too bad belum bisa dieksekusi karena izinnya sudah hampir 2 tahun nyangkut di pusat :( Buat aku, ERP harusnya dipasang saat masuk jakarta. Setiap hari ada 4 juta kendaraan masuk jakarta & jakarta gak dapat apa2🙂 *no offense ”

Mereka yang tinggal diluar jakarta, bayar pajak mobil juga diluar, pbb juga diluar jakarta. Tapi tiap hari masuk jakarta. Dan jakarta got nothing. Memang ERP hanya salah satu cara saja untuk batasi kendaraan. Ini lagi ni yang seharusnya bisa atasin macet di jakarta secara relatif cepet tapi belum jalan: KRL! Knapa? Karena KRL ada Loopline mengitari jakarta

Kenapa gak dijalanin Pemprov?? Toobad, KRL masih dibawah kendali pusat (PT KAI). Pemprov setau saya gak punya wewenang at all disana. Jadi memang (bego2 annya gw) …pemprov harus DIKASIH WEWENANG cawe2 dimasalah KRL ini. Karena KRL SOLUSI DAHSYAT ATASI MACET! Begitulah…hasil pengamatan amatir aku selama dibangkok tentang moda transportasinya…

Memang sih masih banyak kemacetan di bangkok, tapi segera berlalu & pilihan angkutan umumnya banyak banget! Semoga pemerintah pusat bisa lebih banyak kasih wewenang ke pemprov, biar secepatnya masalah kemacetan di jakarta bisa teratasi. Semoga pula pemerintah pusat segera sadar bahwa Jakarta bukan sekedar kota biasa…Tapi ibukota negara Indonesia🙂

By @ipangwahid

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: