Kisah Imam Ahmad

Imam Ahmad; melawan faham ‘khalqul Quran’-nya Mu’tazilah:) Atas apa yang dialami Imam Ahmad ibn Hanbal; sungguh kaum liberal hari ini tak ada seujung kuku dibanding Mu’tazilah zaman itu. Mu’tazilah menganut dikotomi Khaliq-Makhluq; maka Al Quran (bukan Khaliq) mereka anggap makhluq:) Mu’tazilah ga level ama liberalisme yang sekarang? mutazilah sholatnya rajin, tahajud dll”

Fitnah Khalqul Quran; menganggap Al Quran sebagai makhluq, muncul dengan dahsyat di dunia Islam ketika Al Makmun bertahta (813-833).Mu’tazilah (dari kata I’tazala; keluarnya Washil ibn Atha’ lk th 105 H dari Majelis Hasan Al Bashri karena tak puas bahasan takdir). Bergerak secara rapi sejak masa ‘Abdul Malik ibn Marwan (685-705); madrasah Mu’tazilah akhirnya tumbuh raksasa di zaman ‘Abbasiyah.

Setelah mengalahkan Al Amin (yang didukung etnis Arab); Al Makmun (yang didukung etnis Persia) menjadikan Mu’tazilah madzhab negara. Perang antara 2 putra Harun Ar Rasyid (Al Amin & Al Makmun) menghasilkan berkuasanya kaum Persia & falsafah mereka yang memuja akal. Maka Mu’tazilah dengan teologi falsafi & madrasah akal mereka yang kokoh menjadi madzhab yang dipilih Al Makmun tuk mengimbangi.

Bakda wafat beberapa ‘ulama Sunnah yang dihormati (a/l; Ibn Harun Al Wasithi & Asy Syafi’i); Al Makmun mulai memaksakan madzhab ini.  Di antara faham yang paling dikampanyekan; dikotomi-determinasi. Termasuk kategorisasi dalam semesta wujud; hanya 2; Khaliq-makhluq. Jadi menurut Mu’tazilah; segalanya harus masuk ke dalam 2 kategorisasi itu; kalau bukan Khaliq, ya berarti makhluq. Nah; Al Quran?

Menurut Mu’tazilah; karena pastinya bukan Khaliq (Pencipta); maka Al Quran termasuk makhluq (yang dicipta). Gagasan ini berbahaya. Karena kalau termasuk makhluq; maka ia tak lebih tinggi dari akal manusia. Mereka bisa saling menilai, mengoreksi, & menghakimi. Di antara orang kuat Mu’tazilah berjabatan tinggi; Ishaq ibn Ibrahim (panglima besar), Ibn Abi Duwad (hakim agung kekhalifahan)dll.  Para ‘ulama penolak logika dikotomi-determinasi, teologi Mu’tazilah, & terkhusus faham Khalqul Quran mulai ditangkapi & dibunuhi.

Sebagian yang tak tahan atas siksaan & penjara mengambil rukhshah tuk terpaksa mengatakan “Ya” pada kesesatan yang diterorkan ini. Bahkan ‘ulama setingkat Yahya ibn Ma’in, ‘Ali ibn Al Madini & yang lainnya pun menyerah dalam cambukan & tetakan pedang di leher. Hanya sedikit yang bertahan; di antara mereka yang paling agung adalah Imam Ahmad ibn Hanbal. Beliau ditangkap Al Makmun th 832 M.

Beliau dihadapkan pada Al Makmun yang kemudian menjatuhinya hukuman mati; lalu dipenjara lagi untuk mencari saat tepat eksekusi. Dalam perjalanan digelandang terrantai dari Baghdad ke penjara Ar Riqqah, Imam Ahmad berdoa agar tak bertemu lagi dengan Al Makmun. Betul, tahun tersebut, 833 M, Al Makmun meninggal (semoga Allah mengampuninya). Lalu bertakhtalah adiknya, Al Mu’tashim biLlah.

Al Mu’tashim, panglima hebat yang baru pulang dari penyerbuan ke Romawi; berlatar militer; dia lebih bengis dalam menyiksa ‘ulama. Al Mu’tashim menghadirkan Imam Ahmad dalam penghakiman umum yang dihadiri ribuan manusia layaknya hari raya. Dia diminta berhujjah. Imam Ahmad membaca QS At Taubah: 6 (Quran itu Kalamullah) & QS Ar Rahmaan: 1-2 (Arrahman, mengajarkan -bukan menciptakan- Al Quran)

Maka hari itu beliau dimasukkan kembali ke penjara untuk menjalani hukumannya sehari-hari; 40 kali deraan di tiap pagi & sore hari. Hari berikutnya beliau dihadapkan lagi; lalu mengajukan dalil-dalil dari hadits Rasulullah shalallahu’alihi wasalam. Maka beliaupun dipenjarakan lagi. Beberapa hari berselang beliau dihadapkan ulang untuk berdebat dengan hakim agung Ibn Abi Duwad yang beliau menangkan secara telak.

Jika ga keliru, Debat itu ditulis dalam bukunya @salimafillah yang berjudul Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Siksaan menjerikan terus beliau alami. Suatu hari, Al Mu’tashim, Ibn Abi Duwad & para pembesar Mu’tazilah yang menjenguk ke penjara karena payah beliau akibat disiksa. Bertanyalah Al Mu’tashim, “Bagaimana keadaanmu hai Ahmad?” Beliau menjawab, “Duh, semalam aku bermimpi Al Quran mati terkapar!” “Celaka kau hai Ahmad! Bagaimana mungkin ia mati?”, sahut Al Mu’tashim. Jawab beliau, “Kenapa heran? Bukankah kalian mengatakan bahwa ia makhluq? Dan bukankah setiap makhluq ada ajalnya?” Al Mu’tashim terbahak, “Kau cerdas hai Ahmad! Sungguh kau cerdas!”

Kesal dengan cerdik & teguhnya Imam Ahmad; Ibn Abu Duwad, Bisyr Al Muraisi, & Ibn ‘Abdil Malik (Perdana Menteri) mengusulkan bunuh. Coba kita lihat kalimat Ibn Abi Duwad ini; “Bunuh Ahmad ibn Hanbal, sungguh ia imam para sesat yang menyesatkan.” Liberal awal itu dahsyat! Tapi Al Mu’tashim menyatakan; “Aku telah bersumpah tak membunuhnya dengan pedang.” Sahut Bisyr, “Kalau begitu bunuh dengan cambuk!

Maka siksaan dengan cambuk kian menjadi-jadi; hingga wafatlah Al Mu’tashim (moga Allah ampuni) & bertakhtalah putranya, Al Watsiq. Terriwayat juga tentang seorang sipir yang kasihan melihat Imam Ahmad disiksa; maka dia berkata, “Kasihanilah dirimu hai Syaikh sungguh umurmu telah tua & tubuhmu uzur, maka ambillah rukhshah; katakan apa yang mereka suka asal hatimu tentram dengan iman.”

Maka sambil tersenyum, Imam Ahmad menjawab, “Penduduk Baghdad duduk di pintu rumahnya memegang kertas & pena, siap menulis apapun yang terucap dari lisan ‘ulama. Maka pantaskah Ahmad selamat tetapi manusia menjadi sesat?” Dan beliaupun terus istiqamah. Di masa Al Watsiq biLlah; siksaan mulai berkurang & beliau dihukum ‘hanya’ pemenjaraan & pengasingan ke beberapa penjara berbeda.

Hingga; Al Watsiq yang menurut riwayat di akhir hayatnya bertaubat dari khalqul Quran; hanya mengenakan pada beliau tahanan rumah. Lalu bakda wafat Al Watsiq (semoga Allah ampuni); berkuasalah Al Mutawakkil ‘AlaLlah yang membalik keadaan. Dia anti Mu’tazilah. Dia bebaskan Imam Ahmad & melarang masyarakat memperdebatkan faham-faham nyleneh. Para ‘ulama Ahlus Sunnah dapat tempat terhormat.

Tapi ujian belum usai bagi Imam Ahmad; Al Watsiq berusaha menghadiahkan aneka rupa perhiasan dunia tuk beliau. Dan beliau menolak. Maka dikatakan tentang Imam Ahmad; beliau berhasil melalui ujian 4 Khalifah; yang memenjara, menyiksa, mengasingkan, yang merayu. Demikian sekelumit tentang Liberal awal & perjuangan Imam Ahmad ibn Hanbal. Semoga Allah menolong kita tuk warisi ilmu & keteguhan beliau.

By @salimafillah

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: