Bermuara pada ridha Allah

Niat utama sedekah adalah mentaati Allah, memperoleh kebaikan di sisi-Nya. Kalo niatnya harta ya mungkin dapat harta saja.Tapi dia ga dapat keridhoan dan balasan di sisi-Nya. Tidak dapat pahala. Malah dosa, karena beramal untuk dunia. Apakah yang bersedekah untuk dunia pasti mendapat balasan segera? Bisa jadi. Tapi yang jelas dia ga dapat pahala.

Apakah yang bersedekah mencari ridho Allah ga akan dapat balasan dunia? Hehe, siapa bilang? Jangan su’uzhon pada Allah. Kalo yang ga ikhlas aja dibalas di dunia dengan ditambah hartanya, masa yang ikhlas mencari ridho Allah ga dibalas? Tapi yang dikhawatirkan lebih jauh dari itu, yaitu kita lebih ingin tambahan harta daripada ridho Allah. Apakah harta benda lebih menarik bagi kita daripada ridho Allah?

Jika kita menginginkan harta lebih dari ridho Allah, ini pertanda bahaya. Pertanda bahaya besar. Kita shalat dhuha, tahajud, sedekah, bukan agar Allah ridho dan merahmati kita, tapi untuk minta uang. Apakah sorga sudah tidak menarik lagi bagi kita? Apakah kenikmatan uang sudah melebihi sorga? Apakah jika Allah ridho pada kita, pasti kita akan miskin dan sengsara di dunia?

Apakah jika seseorang diberi harta melimpah, berarti Allah ridho padanya? Itu pikiran Qarun. Jika memang harta pertanda ridho Allah, maka Allah telah ridho pada Qarun, Fir’aun dan kaum Aad. Jika memang harta pertanda ridho Allah, maka orang yang shaleh adalah orang yang kaya. Allah memberi harta berlimpah, bukan berarti Allah sayang pada-Nya.

Kita lancang pada Allah, seakan Allah tidak pernah memberi pada kita. Hingga kita tak merasa hutang budi pada-Nya. Hingga yang ada di kepala kita cuma minta, minta dan minta. Kita tidak merasa perlu bersyukur atas pemberian-Nya. Padahal pemberian-Nya lebih baik dari harta melimpah. Padahal satu saja pemberian-Nya, lebih baik dari harta. Contohnya mata. Ada yang mau jual matanya seharga 5 milyar?

Akhirnya kita malah merasa Allah lah yang berhutang budi pada kita karena sedekah kita. Hingga kita memperlakukan Allah seperti jin lampu aladin. Minta ini, minta itu. Seolah tugas kita hanya minta. Kita hanya minta, tapi lupa pada tugas utama, yaitu mengabdi, beribadah, taat, tunduk pada-Nya. Mana yang kita dahulukan? Meminta atau mengabdi? Meminta atau bersyukur?

Ingatlah tugas utama kita adalah ibadah. Ibadah pun tak sempurna tanpa meminta. Meminta termasuk ibadah. Iyyaka Na’budu, wa Iyyaka Nasta’iin, hanya pada-Mu kami mengabdi, hanya pada-Mu pula kami meminta pertolongan. Ibadah kita sampingkan, syareat kita singkirkan, kita tidak taat pada-Nya, tapi selalu meminta uang. Idza sa’alta, fas’alillah. Jika kamu minta, mintalah pada Allah. Begitu pesan Nabi shallallahu alaihi wasalam pada Ibnu Abbas.

Tapi sebelumnya Nabi berwasiat= ihfazhiLLaha yahfazhka. Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, artinya jagalah perintah2 Nya, jangan ditinggal, jagalah larangan2 Nya, jangan dilanggar. Tugas kita adalah takwa, bukan jadi kaya. Tujuan kita adalah ridha Allah, bukan mengumpulkan harta. Nabi Sulaiman menganggap kaya adalah karunia dan ujian: hadza min fadzli Rabbi, liyabluwani… Lihat surat An Naml: 40.

Kata Nabi Sulaiman: ini adalah karunia dari Allah, untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah malah kufur? Begitu pula sahabat Nabi yang kaya raya, mereka bukan hidup untuk jadi kaya. Uang bukan jadi tujuan mereka. Jika memang kaya itu dilarang, pasti Nabi sudah marah pada Abubakar, Umar, Usman, dan mengutuk Abdurrahman bin Auf.

Tapi lihatlah bagaimana Nabi dan para sahabat bersyukur. Mereka mensyukuri nikmat dengan shalat. Lihatlah shalat mereka. Nabi shalat sampai bengkak kakinya, berjam-jam lamanya. Tidak hanya sedekah saja. Kita? Kita mencari yang enak2. Walhasil, khairal hadyi, hadyu Muhammad. Sebaik2 petunjuk adalah petunjuk Muhammad, semoga kita jadi pengikutnya. Amin.

Sebagian masih salah paham, mengira bahwa ikhlas adalah miskin. Mengira bahwa ikhlas tidak boleh kaya. Ini salah paham. Ada lagi yang mengira kita tidak boleh minta uang pada Allah. Kalo tidak minta pada Allah, kemana lagi? Yang menyedihkan, ada yang mengira bahwa mengajak untuk mencari akherat adalah ajakan untuk miskin. Astaghfirullah.

By @syarifbaraja

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: