Penghambaan diri

A’udzubillahiminasysyaithanirrajiim..

>> Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (Qs. Annisa 36)

[294] dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang muslim dan yang bukan muslim. [295] Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma’shiat yang kehabisan bekal. termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.

Ikhwatifillah rakhimakumullah Allah subhanahu wata’ala memberikan taujih-Nya, arahan kepada kita semua dalam Al quran surat Annisa ayat 36. Sebagai Hakikat penghamabaan kita pada Allah subhanahuwata’ala. Terkait dengan amaliah-amaliah yang kita perbuat dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas-aktivitas yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai bentuk pengabdian kita pada Allah subhanahu wata’ala. Tidak sempurna penghambaan diri kita pada Allah subhanahu wata’ala kalo amal-amal ini tidak kita lakukan.

Pembuktian pengabdian kita pada Allah bukan hanya dengan Ibadah yang bagus, shalatnya bagus, tidak menyukutukan Allah subhanahu wata’ala dengan sesuatu apapun. Tapi dilanjutkan dengan berbuat baik pada kedua orang tua kita (termasuk mertua). Jadi ketika hubungan kita rusak dengan orang tua/ada masalah dengan orang tua, tidak menghormati, kurang harmonis dsb maka belum sempurnalah penghambaan kita pada Allah subhanahu wata’ala.

Aktivis dakawah sudah seharusnya baik-baik saja hubungannya dengan ke dua orang tua. Kalo masih bermasalah dengan orang tua/mertua berati belum sempurnalah ibadahnya. Yang kedua berbuat baik pada kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin. Apa yang kita lakukan pada mereka? Setelah menyembah pada Allah, shalatnya bagus, beres dengan kelurganga, orang tuanya/mertuanya. Kemudian melangkah ke kerabat, anak yatim dan orang miskin.

Beres dalam arti mereka pro aktif (menjadi kader dakwah), tahapanya kontra pasif > pro pasif > pro aktif. Bagaimana posisi kelurga kita, orang tua/mertua kita apakah mereka sudah menjadi kader dakwah? Kalo belum beresin dulu nih. Tetangga kita dalam Islam adalah 40 rumah ke depan, belakang, kanan & kiri. Jadi kita punya 160 tetangga dekat. Paling tidak kita kenal dengan mereka. Bahkan bukan hanya tetangga dekat saja, perintah Allah subhanahu wata’ala tetangga jauh kita juga.

Ternyata juga bukan itu saja masih ada teman sejawat, siapa? Bisa teman sekampung, teman seprofesi, sekumpulan, macem-macemlah banyak. Antum punya klub apa, di pekerjan apa itu juga termasuk. Kemudian Ibnu sabil, orang dalam perjalanan. Musafir/perantau yah. Hamba sahaya mu juga. Kalo dikantor OB lah. Dalam akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang hamba yang sombong dan membangga-bagakan diri. Bila kita tidak bisa berkomunikasi dengan mereka & menjadikan mereka bagian dari kita (Kader dakwah) maka dianggapnya kita adalah seorang hamba yang sombong dan membngga-banggakan diri.

Kalo kita susah komunikasi dengan mereka berarti kita ini punya penyakit sombong dan membangga-banggakan diri. Inilah bahan intropeksi buat kita semua. Rasulullah shalallahu’alayhi wasalam pun sudah memberikan contoh pada kita semua;

  1. Tebarkan salam, senyum, sapa,santun, sopan. Jadilah orang yang di senengi. Jangan pasang wajah yang nyebelin. Kepada siapa saja baik muslim/non muslim. Ngaku aktivis? Tapi diem aja di rumah, tidak di kenal orang-orang. Masyarakatnya pun mengatakan kita adalah orang yang so sibuk, jarang di rumah tambah sombong lagi. Jadi pembentukan karakter perlu nih untuk kita semua. Pelatihan kepribadian.

  2. Memberi (makanan, buah tangan dsb). Rasulullah shalallahu’alyhi wasalam memberi makan pada pengemis yahudi sampe beliau wafat di lanjutkan oleh Abu bakar. Gimana dengan kita, rela ngga kalo kita memberi makan pada orang yang menjelek-jelekan kita, menghina kita? Nih yang perlu di benerin. Kita beri aja mereka seperti yang udah di contohkan Rasulullah shalallahu’alayhi wasalam.

    Ketika Rasulullah shalallahu’alayhi wasallam wafat,orang yahudi yang jadi musuh Rasulullah yang biasa di beri makan oleh Rasulullah malah menjadi kader dakwah yang pro aktif di masa Abu bakar. Efeknya luar biasa ni dengan memberi. Inilah jalan dakwah kita. Beri semua jangan diskriminasi memberi pada orang tertentu saja. Semua kita juga beri. Baik yang muslim/non muslim, yang pendosa, yang memusuhi kita dsb. Orang kaya pun ad juga yang suka di beri. Karena dengan memberi dapat melunakan hati.

  3. Silaturrakhim. Ketika kita silaturrakhim bawalah buah tangan, bawa buku buat dia dsb. Kalo kita ngga bisa ngasih ya, apa yang bisa kita kerjakan buat mereka. Kalo kita bisanya Komputer ajarin mereka komputer dsb. Jadi rumah kita itu rame dengan kebaikan. Jangan berharap kita memberi untuk mendapatkan balasanya dengan cepat. Begitupunjuga dengan anak-anak gaulnya, metalnya dsb silaturrakhim. Kita kenali merekalah.

Idealnya seperti in yah, tapi jangan buru-buru pengen instan dia cepat masuk jadi bagian dari kita, jadi kader dakwah yang pro aktif. Ingat ada tahapanya Kontra Aktif>Kontra pasif>Pro pasif>Pro aktif. Liat mereka ada dalam posisi dimana. Kita tingkatkan terus pendekatan-pendekatan kita. Pelan tapi pasti. Seperti yang udah di contohkaan Rasulullah shalallahu’alayhi wasaalam (Pengemis yahudi).

Orang yang sombong tidak akan masuk surga, walaupun kesombonganya seberat biji sawi. Jadi ikhwati fillah rakhimakumullah Antum semua punya keahlian apa bisa apa, maksimalakanlah dengan program-program kebaikan diatas. Semangat, pantang menyerah sebelum membuahkan hasil. Ibarat pohon pisang. Belum mati tuh pohon pisang kalo belum membuahkan hasil (buahnya). Kalo di tebas tumbuh lagi (ust Hasan).

Orang Muslim juga sebaiknya begitu, ketika ada halangan, rintangan yang mematahkan kita. Bangun lagi, maju lagi, Usaha teruus. Sampe berbuah kebaikan. Ibarat pohon pisang itu tadi. Dan juga ketika kita mati, kita udah berbuah. Kita itu sudah punya penerusnya. Tunas-tunas yang akan melanjutkan perjuangan kita. Sama semangat juang nya dengan kita. Ibarat pohon pisang itu tadi. Ketika berbuah/belum berbuah. Pohon pisang ini sudah punya tunas yang sama, bahkan lebih bagus kulaitasnya dari pada induknya. Iqro, bacalaah..

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan kecintaan kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam dakwah-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari’at-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, Ya Allah kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukanlah jalanya, dan penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-mu, hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu, Dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung. Amiin. Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan kami Muhammad, kelurganya, para sahabatnya, dan juga sampaikan salam.” Amiin

Wallohu’alam bishawab,.. (By Ust Saroji)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: