Hadiah yang paling utama

Rasulullah Shalallahu’alyhi wasalam bersabda: “Tidaklah seorang muslim memberikan hadiah kepada sesama saudaranya, lebih utama dari hadiah menyampaikan nasihat bijak (kalimat hikmah) yang denganya Allah menambah petunjuk-Nya atau mengangkatnya dari lembah kehinaan.” (HR. Imam Baehaqi). Sungguh sangat indah sabda Rasulullah shalallahu’alayhi wasalam tsb, yang mggambarkan urgensi nasihat bagi seorang muslim.

Saling menasehati antar sesama, apapun posisi, status & jabatannya merupakan suatu keniscayaan & kebutuhan. Sebab manusia itu, disamping memiliki berbagai kelebihan sekaligus juga memiliki bbagai kekurangan termasuk seringnya lupa dan sering pula melakukan kesalahan. Orang taqwa itu sesungguhnya bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi orang yang jika melakukan kesalahan, segera bertaubat, kembali kepada Allah.

Serta menyadari kesalahannya, dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya tsb. Allah subhanahuwata’ala berfirman dalam QS. Ali Imran [3] ayat 135. “Dan (orang2 taqwa juga) adalah orang2 yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa2 mereka & siapa lagi yang dapat mngampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (3: 135)

Nasihat yang bijak, akan menyebabkan seseorang menyadari kekeliruan & kesalahannya. Karena kondisi manusia demikian itulah, maka sungguh sangat sombong apabila ada manusia yang merasa dia selalu benar. Ataupun merasa suci dan bersih dari berbagai dosa dan kesalahan. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam QS. An-Najm [53] ayat 32. “..Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.”

Dalam hadis shahih: seutama2 nya jihad adalah mnyampaikan kalimat hak (nasihat yang baik & tegas) pada pemimpin yang dzalim. Orang yang sedang berkuasa jika dibiarkan larut dalam kekuasaannya tanpa ada yang mengoreksi & menasehati Pemimpin tsb akan cenderung berlaku sewenang-wenang dan otoriter. Banyak yang terjadi dalam sejarah, penguasa yang asalnya baik & adil menjadi dzalim, karena tiada yang berani mberikan nasihat.

Bahkan, ada kecenderungan orang2 di lingkaran dekatnya, bukan saja tidak berani melakukan kritik. Akan tetapi slalu mengiyakan apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan oleh para penguasa tsb tanpa memperhatikan apakah hal tersebut sesuai dengan ketentuan syariah atau tidak. Karena dampak dari nasihat yang bijak itu sangat luar biasa, pantaslah Rasulullah shalallahu’alayhi asallam dalam hadits tsb d atas menyatakan bahwa memberi nasihat itu sama dengan memberikan hadiah yang paling utama.

Mari kita rebut hadiah utama ini, dengan membiasakan memberikan nasihat pada kebaikan kepada orang2 disekitar kita termasuk kepada para penguasa yang mendapatkan amanat jabatan publik,…

By @hafidhuddin

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: