Berorganisasi namun tetap berprestasi

Kuantitas mahasiswa untuk aktif di organisasi trendnya semakin menurun. Apalagi bicara kualitas…fiuuh. Mohon kebijaksanaan mas-mas senior untuk tidak melupakan kampus tercinta. Setiap pelatihan, idealnya para alumni ‘terlibat’ dan ‘berinisiatif’ membersamai para adik-adik. Mereka masih butuh figur teladan. Tidak banyak ‘figur’ yang bisa dijadikan teladan bagi adik-adik, dalam bergerak dan berkarya.

Selain soal role model dari alumni, terjadi orientasi dikotomik, ipk atau aktif organisasi. Padahal keduanya saling melengkapi. Stimulus dan insentif positif dari pihak kampus untuk mendorong iklim yang kondusif bagi mahasiswa aktif juga semakin jauh dari harapan. Repotnya, mahasiswanya malah kurang kreatif. Hanya sedikit yang bisa bertahan dan keluar dari masa lalu.

Di antaranya, kelompok studi dan para wirausahawan. Mereka berhasil membaca peluang dan banyak mendapatkan kesempatan. Problem berikutnya, orang-orang yang sudah sadar dengan aktivismenya, asik sendiri. Lupa bahwa berkarya memerlukan sinergi dan inovasi. Organisasi mahasiswa hari ini agak kesulitan membuat narasi dan merekonstruksi realitas.

Hari ini, organisasi mahasiswa lebih suka menikmati konstruksi realitas oleh media yang terkadang hiperrealitas. Ukuran & parameternya masih eksistensi, materi, bahkan masih terjebak pada kepentingan politik praktis & rutinitas tanpa visi yang jelas. Antara ada dan tiada peran organisasi mahasiswa di mahasiswa apalagi masyarakat…jadi jangan terlalu berharap

Berharap akan kecewa! karena mahasiswa dan organisasi dituntut untuk lebih banyak berkarya dan berwacana. Kalau dulu boleh berwacana dulu, sekarang berkarya harus di awal, karena masyarakat jenuh dengan ‘kata yang tak bernyawa’. Biaya, beban akademik yang tinggi, lingkungan konsumtif membuat mahasiswa berfikir ulang untuk ikut organisasi?

Berorganisasi adalah salah satu cara mahasiswa untuk lebih dewasa menyikapi realitas maupun problem. kalo makin dikit yang ikut, berarti..solusinya, para pegiat organisasi dituntut menjadi teladan, terus berinovasi, tidak asik sendiri (membumi). ‘untuk sang teladan’, memang diharapkan mampu menciptakan lokus-lokus kecil kaderisasi agar dapat meneruskan perjuangannya.

Biasa disebut kelompok epistemik yang memang arahannya untuk membangun sinergi jangka panjang membangun kampus dan Indonesia. Inovasi terkait kemasan dan substansi kegiatan. usahakan ‘renyah’ namun tetap berisi dan relevan dengan kondisi sekarang. Contoh inovasi yang dimaksud, bagaimana memanfaatkan jejaring sosial semacam fb/ twitter/ym/skype untuk berdiskusi rutin

KAMMI jadi trending topics atau hal-hal terkait dengan progresifitas organisasi mahasiswa jadi pembicaraan tweeps & facebookers.  Atau memberi tempat kepada para alumni / tokoh sharing success story mereka berkontribusi saat menjadi mahasiswa secara berkala. Dalam konteks membumi, para organisatoris biasanya sering lupa. Terlalu asik dengan dunianya

Pemikiran atau tindakan memang harus punya prinsip, namun untuk menghasilkan perubahan dan perbaikan, kita tetap butuh massa.  Bahasa sederhana, tulisan ringan, pemikiran mencerahkan hingga penampilan bersahaja, setidaknya bisa membuat rekan2 yang lain nyaman. Organisatoris koq ngga mandi, jarang kuliah, ipk mau mati suri, serta ketidakjelasan lainnya

Para organisatoris paling mudah diterima oleh siapa saja asal tetap berintegritas dan konsisten. Penyebabnya tidak lain, karena di organisasi, para organisatoris terbiasa dengan masalah dan menerima amanah.  Sayangnya, sekarang banyak yang menjadikan organisasi sebagai ‘batu loncatan jabatan’, wajar pada karbitan dan ngga bedanya dengan yang lain

Berorganisasi biasa kalau berorganisasi plus berprestasi itu luar biasa! Di masa mendatang, kebutuhan atas aktivis-aktivis berprestasi semakin besar. Kalau dulu aktivis berprestasi itu biasa, sekarang..agak sulit dan jarang. tertarik membuktikan? kalo keyword dua kata ini dipahami dengan baik, yakni berprestasi dan berorganisasi, maka mahasiswa bersangkutan nikmat banget hidupnya.

Di organsiasi kita memberi untuk orang lain dan berprestasi memenuhi amanah kepada orang tua. buat kita apa? >> pengetahuan, pengalaman, beasiswa, jejaring, kematangan emosi,…tapi, kalau buat saya, ngalir itu tetap lebih baik. Lakukan yang sebaik mungkin dan niatkan diri memberikan yang terbaik untuk peran apapun yang dimiliki.

boleh dicoba gabung di facebooknya nih –> http://t.co/7UdwL12A –> agar berorganisasi namun tetap berprestasi. Ditunggu yh ^_^

By @AgungBaskoro

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: