Agar Kerja Berniali Ibadah

Pagi mulai terang. Matahari belum tampak di ufuk. Tangerang masih hening. Hari ini hanya mendengar satu azan. Jelang Subuh tak terdengar. Masih ada waktu untuk sarapan pagi sebelum beranjak pergi bekerja. Sungguh, kadang kerja itu bukan soal uang. Andai dunia sudah engkau genggam, maka ia tak mengugurkan kseharusan bekerja. Terlebih ketika bidang yang kita geluti berkenaan dengan fardhu kifayah.

Gigih bekerja untuk penuhi amanah. Keras bekerja dengan berharap Allah Ta’ala hapuskan dosa-dosa. Adapun terhadap rezeki, semoga kita mampu qana’ah. Teringat sabda Nabi shalallahu’alayhi wasalm., “Sungguh beruntung orang yang telah brserah diri, dberi kecukupan rizki & diberi sifat qana’ah terhadap apa yang dberikan Allah kepadanya.” HR. Muslim

Renungi At-Takaatsur & khawatiri akan datangnya suatu masa ketika manusia tak peduli halal-haram maupun syubhat. Amat besar nafsu untuk kaya. Nabi shalallahu’alyhi wasalam : “Sungguh akan datang kepada manusia suatu masa ketika seseorang tidak lagi pduli dari mana dia mendapatkn harta, dari jalan halal atau haram” HR. Bukhari

Padahal daging yang tumbuh dari harta haram, tak ada yang lebih pantas baginya kecuali neraka, meski kita sedekah besar tiap hari. Teringat sabda Nabi shalallahu’alayhi wasalam., “Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya” (HR. Ahmad & Ad-Darimi).

Inilah masa ketika kita berucap salam kepada orang tertentu saja. Bahkan menjadi aneh berucap salam kepada orang yang tak akrab. Nabi shalallahu’alayhi wasalam., ” Renungi sabda Nabi shalallahu’alayhi wasalam., “Menjelang tibanya hari Kiamat, salam hanya diucapkan kepada orang-orang tertentu, dan banyaknya perdagangan hingga seorang wanita membantu suaminya dalam brdagang.” (HR. Ahmad & Al-Hakim). >>Telah tibakah masa ini?

Adakah kita telah menyelami tuntunan dien ini dalam mndidik anak? Semoga Allah mampukan kita berislam. Atas diri yang lemah ini, semoga Allah Ta’ala mampukan kita berislam secara kaaffah sehingga dalam mendidik anak pun, Islam pegangannya. Ya Allah, limpahkan kepadaku ‘ilmu, karunia aku kefahaman & hidayah. Wanita akhir zaman itu, bersemangat membantu suami berniaga bukan karena ingin menegakkan kehormatan dien, tapi karena berburu kaya.

Semangat menyala demi merebut hasrat untuk bermegah-megah. Sementara bisnis pokoknya, mengantar anak ke surga, cukup sekolah yang mengurusnya. Bahkan sekolah pun tidak untuk menghindarkan anak dari api neraka, tetapi semata agar kelak mereka terampil memperebutkan dunia. Adapun yang mengasuh dan merawat jiwa mereka, pembantu yang melaksanakannya. Julukannya pembantu, tapi ia pelaksana utama.

Sebagian di antara pembantu itu, amat besar kasih-sayangnya kepada anak-anak kita. Mereka mncintai anak melebihi kasih-sayang kita kepada mereka. Maka, tak adakah rasa khawatir apabila do’a-do’a mereka tak menambah kebaikan kita? Sungguh do’a anak kepada orangtua itu bersyarat. Ada frasa Kama Rabbayaani shaghiira (SEBAGAIMANA mereka mengasihiku di waktu kecil). Maka, sudahkah kita melimpahi mereka kasih-sayang?

Diam-diam teringat firman Allah Ta’ala:  Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,” QS. 102: 1, Jika tak segera berbenah, tak ada hentian selain kematian. Teringat firman Allah, ”  Sampai kamu masuk kubur” QS.102: 2, ” Janganlah begitu. Kelak kamu akan tahu (akibat perbuatanmu itu).” (QS. 102: 3 Allah tegaskan: , Maka bagaimana mungkin engkau berharap dapat pahala dengan mengira kerjamu bernilai ‘ibadah jika dunia yang jadi impian?

Sungguh niat itu bukan sekedar apa yang terucap, apalagi hanya sekedar prasangka pada diri sendiri. Padahal niat baik pun tak cukup. Ada niat baik, ada ‘ilmu dan ada tuntunan yang harus dijunjung. Hanya kerja yang bernilai ‘ibadah yang kita dapat berharap pahalanya. Sungguh, bukan perniagaan yang mnjadi keburukan. Teringat sabda Nabi shalallahu’alyhi wasalam.: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah melimpah ruahnya harta dan banyaknya perdagangan.” (HR. An-Nasa’i & Ahmad).

Inilah masa ketika manusia menakar kehormatan dari banyaknya harta yang bertumpuk dan pakaian yang dikenakan. Inilah masa ketika kehormatan ilmu dan dien diukur dari berapa besar ongkos untuk mendapatkannya, meski hanya sepintas lalu belaka. Inilah masa ketika hubungan da’i dan mad’uw hanya sekedar transaksional semata. Gigih bertutur bukan karena amat sayang kepada jama’ah.

Ya Rasulallah, patutkah diri yang hina ini menjadi julukan sebagai pewarismu? Sedangkan jauhnya jarak kadang telah melemahkan niat? Padahal engkau, Allah Ta’ala gambarkan:, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sndiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” QS. 9: 108

Inilah masa ketika penampilan dan gadget muballigh lebih bernilai daripada ilmu dan sikap wara’. Adakah ini terjadi hari ini? Maka renungi ketika Nabi bersumpah:  Demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian akan tetapi yang aku takutkan atas kalian jika dunia dibentangkan kepada kalian sebagemana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, ” Muttafaqun ‘alaih. Maka, apakah yang dapat kita renungi? >> sehingga kalian brlomba-lomba sebagemana mereka brlomba-lomba & (dunia) menghancurkn kalian sebagemana (dunia) telah mnghancurkan mereka.” Muttafaq ‘alaih. Inilah masa ketika dakwah menjadi perniagaan. Kita mengira sedang berniaga dengan Allah Ta’ala, padahal kita berniaga dengan manusia.

Inilah masa ketika penghormatan kepada ‘alim bukan sebagai bentuk bersemangatnya diri menolong agama Allah Ta’ala, tapi relasi untung-rugi. Termenung mengingat hadist:   Dan (dunia) melalaikan kamu sebagemana telah melalaikan mereka.” HR. Muslim

Astaghfirullah… Alangkah sedikit bekal, alangkah kurang ‘ilmu & alangkah jauh diri ini dari kepatutan untuk berbicara dien. Maafkan saya….

By @kupinang

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: