Ulama

 

Ulama itu seperti lautan, luas lagi dalam. Dan dia mengirimkan murid-muridnya, seperti gelombang, berterusan tak terputuskan, menuju pantai dakwah. Ulama itu memberikan hidupnya bagi kebaikan umat yang dibimbingnya, dan mempertaruhkan lehernya bagi kezaliman yang dilawannya, semoga Ulama itu, bersungguh dalam ibadah, tinggi manfaatnya, luas mendalam ilmunya, dan sangat berani pada penyembah selain Allah Ta’ala.

Ulama itu dikasihi umatnya, disayangi kaum berilmu, didamba para mujahidin dan dibenci oleh orang-orang yang ingkar dan zalim. Ulama itu, lembut perangainya pada kaum beriman & tegas sikapnya pada orang yang ingkar. Bukan sebaliknya, keras pada saudara tapi mesra dengan yang ingkar. Ulama itu tidak saja tangkas saat mengajar di atas mimbar, tapi juga tidak lamban mengatasi persoalan yang sedang menjalar jangkit dalam kehidupan.

Ulama: tegas dalam membela kebenaran, gigih dalam memegang kejujuran, dan unggul dalam sikap kasih sayang. Ulama itu zuhud, menganggap emas serupa dengan tanah, memikirkan ajal seolah hadiah yang didamba. Bukan pencinta mobil mewah, astaghfirullah! Ulama itu mengambil giliran paling belakang tentang hak dan perolehan, tapi berdiri paling depan saat kewajiban dan perjuangan. Bukan sebaliknya.

Ulama itu ilmunya menderas bagai hujan jika mengajar. Berterusan seperti gelombang dalam pengkaderan. Dan lembut seperti angin sepoi dalam bimbingan. Ulama itu menjadi Allah sebagai hakim tunggalnya, alquran sebagai panduannya, perilaku Rasulullah sebagai kompasnya. Dan umat sebagai ladangnya! Ulama itu selalu memikirkan bagaimana menyemai tanah dan menabur benihnya. Tak pernah berpikir tentang apakah dia ikut menuai dan memanennya.

Ulama itu tidak pandai berpura-pura di depan kuasa dan penguasa. Tidak pandai mengeluh tentang dunia. Tidak pandai kagum pada gemerlapnya! Ulama itu tak mudah tergoda kuasa, tapi disegani penguasa. Lemah lembut pada umatnya, tapi keras pada yang zalim dan menista agamanya. Ulama itu mengukur dirinya bukan dari banyaknya follower dan pengikut, tapi dari manfaat yang diberikan dan kebaikan yang diwujudkan, lain tidak.

Ulama itu akan mengajar dengan sikap dan semangat yang sama, baik di depan 3000 orang ataupun di depan 3 orang saja. Ulama itu perahu ilmunya meluncur menerjang gelombang kebodohan, dan bukan malah hilang arah di tengah perairan dangkal. Ulama itu hanya berdiam diri di depan kebenaran, dan agak bergerak ketika berada di depan keburukan dan keingkaran, menolak kemaksiatan.

Ulama tak pernah risau di mana tinggalnya, di rumah/di penjara, yang membuatnya risau adalah, bagaimana imannya? Ulama itu mengagungkan sunnah seagung-agungnya, mengangkat pemikiran yang tunduk pada iman, menginjak syahwat buruk sampai ke dasar. Jika orang lain sibuk membangun istana dan mengisinya, ulama sibuk meningkatkan iman dan memperbaiki amal.

Imannya paling teguh, lisannya paling fasih, amalnya paling tinggi, kesadarannya paling jernih, sikapnya paling lembut, itu ulama asli.

 

, , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: