Serba Serbi Puasa

Puasa diwajibkan Allah kepada semua yang beriman | namun tentu saja, diantara kaum yang beriman ada yang mampu dan ada yang tidak mampu. Syariat menerangkan golongan yang tak mampu adalah; 1) orang sepuh lanjut usia yang susah puasa 2) orang yang menderita sakit yang tak diharap sembuhnya.

Orang sakit yang tak diharap sembuhnya ini semisal sakit menahun, lambung bocor, kanker ganas, atau yang memang tak memungkinkannya puasa. Bagi kaum yang tak mampu puasa ini, maka Islam perintahkan mereka membayar fidyah (QS 2:184) | (yaitu) memberi makan seorang miskin. fidyah ini berupa satu porsi makan (yang biasa kita makan) yang diberikan pada 1 orang miskin, sebagai ganti 1 hari tak puasa.

Misal puasa pada tahun itu 29 hari, maka berikan 29 porsi makan ke orang miskin | 1 orang miskin 29x boleh, atau 29 orang miskin 1x makan boleh. Boleh pula memberi uang yang setara dengan itu | dan memberi fidyah ini dilakukan setelah bulan puasa berakhir, bukan sebelumnya. Ok, clear ya tentang fidyah ini | singkat cerita, fidyah ini hanya diberlakukan pada kaum beriman yang tak mampu menjalankan puasa

Nah, bagi yang beriman dan mampu untuk puasa, maka dia wajib menjalankan puasa pada bulan ramadhan, there’s no doubt about it🙂 Bila dia mampu puasa, namun batal puasa dan tak ada udzur (alasan) syar’i, misal: gauli istri saat siang hari, maka bayar kafarat. Kafaratnya: 1) memerdekakan budak, atau 2) puasa 2 bulan berturut tanpa jeda atau 3) bersedekah pada 60 fakir miskin | bertahap sesuai urutan.

Maksudnya bila nggak mampu merdekakan budak, baru puasa 2 bulan berturut-turut, kalo nggak mampu juga baru sedekah kepada 60 fakir miskin. Lalu, bagaimana jika batalnya karena ada udzur (alasan) syar’i? | maka baginya mengganti puasanya (qadha), dibayar di hari yang lain. Udzur syar’i yang boleh membatalkan puasa ini seperti musafir, haid, ibu hamil/menyusui, sakit temporer yang mengancam jiwa, dll

Nah, khusus untuk ibu hamil atau menyusui, jumhur ulama, dan pendapat terkuat mewajibkan Ibu hamil / Ibu menyusui tetep qadha (ganti) puasanya. Madzhab syafi’i tambahkan, bila Ibu hamil / Ibu menyusui tak puasa karena khawatirkan bayi | maka mereka juga wajib bayar fidyah selain wajib qadha puasa.

Bila Ibu hamil / Ibu menyusui tak puasa karena khawatirkan dirinya atau dirinya sekaligus bayi | maka madzhab syafi’i memandang cukup bayar qadha saja. Bagaimana bila hutang puasa belum terbayar sampe ramadhan berikutnya? | maka tetep dihitung yang telah lalu, dan tetep harus di-qadha. Tidak ada dalil, bahwa ketika hutang puasa belum terbayar sampai ramadhan kedepan, maka jadi 2x lipat | ok, clear ya?🙂 Namun, ulama bersepakat, bahwa lalainya seseorang bayar hutang puasanya sampai ramadhan berikutnya adalah maksiat, jadi segera bayar ya🙂

Lalu, bolehkah menggabung niat puasa sunnah dengan qadha puasa? | tidak boleh, karena satu niatnya wajib, satu niatnya sunnah. Bila menggabung niat puasa sunnah, seperti saat senin-kamis, digabung puasa sunnah syawal, maka ini dipersilahkan madzhab syafi’i. Bagaimana bila lupa hutang puasa karena sudah tahunan yang lalu? | ya dikira-kira aja, dan di-qadha semuanya, karena itu hutang. Bolehkah bayar qadha puasa yang terlalu banyak dengan fidyah? | nggak ada dalilnya, jadi jangan coba-coba, kecuali bila ada dalilnya🙂

By @felixsiauw

, , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: