Pajak dan Zakat

Ada sebagian orang yang berusaha menyamakan pajak dan zakat, maksudnya supaya cukuplah bayar pajak atau zakat saja, tidak perlu 2-2nya. Pajak dan zakat memang terdapat beberapa kesamaan, tetapi keduanya juga memiliki banyak perbedaan. Kesamaan pajak dan zakat antara lain adalah kewajiban yangg harus ditunaikan oleh setiap warga negara di suatu negeri. Pajak dan zakat ditunaikan kepada lembaga resmi agar tercapai mobilisasi & optimalisasi pemanfaatan. Setiap pembayar pajak atau zakat tidak ditentukan imbalan materi dikhususkan di dunia ini. Dan keduanya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan ekonomi & mengatasi kemiskinan.

Namun perbedaan pajak dan zakat juga cukup banyak. Perbedaan pertama adalah kalau pajak adalah kewajiban dari negara, sementara zakat adalah kewajiban dari Allah subhanahu wata’ala. Perbedaan lain adalah kalau pajak batas harta minimal & tarifnya ditentukan ngara & brsifat rlatif, kalau zakat oleh Allah brsifat mutlak. Kalau kewajiban zakat bersifat tetap, sedangkan kewajiban pajak sesuai kebutuhan & dapat dihapuskan.

Subjek zakat adalah setiap muslim, sementara subjek pajak adalah setiap warga negara. Kalau penyaluran zakat dapat digunakan untuk kepentingan pembangunan ekonomi scara umum, kalau zakat disalurkan untuk 8 asnaf. Di zaman Rasul dan para sahabat pun zakat dan pajak juga dijalankan kedua-duanya. Pada masa kini, berkembang pemikiran agar zakat dapat menjadi pengurang pajak, usulan ini sebagai bentuk insentif terhadap pembayar zakat .

Usulan zakat menjadi pengurang pajak ini mengemuka saat pembahasan UU zakat pada tahun 1999. Akhirnya usulan ini diakomodasi dlm UU No. 38 thn 1999 hanya zakat menjadi pengurang penghasilan kena pajak. Akomodasi ini menunjukkan bahwa pemerintah RI / Kemenkeu masih khawatir dengan kebijakan zakat menjadi pengurang pajak secara utuh. Pada saat pembahasan revisi UU zakat, lagi-lagi usulan zakat menjadi pengurang pajak ini coba dimasukkan, tapi lagi-lagi kemenkeu menolaknya.

Akhirnya UU No. 23 tahun 2011 hanya menegaskan zakat menjadi pengurang penghasilan kena pajak (zakat sebagai faktor biaya). Pemerintah/kemenkeu rupanya masih khawatir kalau zakat menjadi pengurang pajak, penerimaan negara dari pajak akan turun. Padahal di beberapa negara, seperti di Malaysia kebijakan zakat menjadi pengurang pajak secara utuh telah diterapkan.

Dan dampaknya tidak menurunkan jumlah penerimaan pajak negara malaysia, justru terus meningkatkan. Perlu ada peyakinan kepada pemerintah/kemenkeu berupa penyajian data-data hubungan zakat sebagai pengurang pajak terhadap penerimaan pajak.  Sobat, semoga bermanfaat🙂

Cc@Dompet_Dhuafa @hafidhuddin @republikaonline @infoIMZ @Zakat_Watch

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: