Ilmu Kedokteran Dalam Islam

Salah satu rujukan thibunnabawi (pengobatan cara Nabi ): buku At Thib anNabawi–nya Ibnu Qayyim (Kitab Zadul Ma’ad). Namun semakin membaca buku tersebut, banyak hal yg justru sejalan dengan kedokteran modern atau potensial untuk saling melengkapi. Ibnul Qayyim menulis “Hendaknya seorang dokter memilki keahlian dibidang penyakit hati & ruh serta pengobatannya”, “sebab terpengaruhnya badan dan sifat alamiahnya oleh jiwa dan hati adalah kenyataan yang telah terbukti.” 

Bila seorang dokter memiliki keahlian medis yang bertanggung jawab, dengan pendekatan yang humanis terhadap manusia sebagai insan spiritual. Paham masalah hati, tak memandang pasien sebagai makhluk material semata apalagi sebagai sumber ekonomi, maka ia dokter yang sebenarnya. Konsep holistik ini sebenarnya bukan hal yang asing dalam pendidikan kedokteran modern.

Mahasiswa kedokteran dididik untuk memahami pasiennya sebagai manusia yang utuh dgn segenap karakter & latar belakangnya. Dokter juga diajarkan untuk memahami bahwa penyakit terjadi karena adanya interaksi vector, host (manusia) & lingkungan. Ibnu qayyim juga menjelaskan makna hadits “Tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah” (HR.Muslim) 

Setiap penyakit ada penyebabnya, saat dokter/terapis tak mampu mendiagnosis penyakit atau obatnya tidak mengenai sasaran, maka penyembuhan tidak berhasil. Tatkala obat mengenai sasaran yang tepat, maka penyakit akan sembuh dengan izin Allah. Penyakit selalu disertai dengan penyebab, maka yang pertama dilakukan menentukan sebab terjadinya, penyakitnya & kemudian obatnya. 

Dari sisi ini, kedokteran modern memberikan kontribusinya dengan baik. Penelitian kedokteran membuka penyebab berbagai penyakit. Sehingga memberikan jalan ditemukannya terapi untuk penyakit tersebut serta cara untuk mencegahnya. Namun, kedokteran modern “terlalu jujur” mengakui banyak penyakit yang belum diketahui penyebabnya, masih dugaan atau hipotesa.

Atau sekalipun sudah diketahui penyebabnya, obat yang ada belum dapat menyembuhkan. Sedangkan pengobatan alternatif terkadang sangat percaya diri dengan terapinya, walaupun bukti-buktinya masih lemah. Dengan demikian, kedokteran modern mengajarkan sang dokter untuk tidak takabur, tidak bersikap bahwa dirinya sebagai penyembuh. Se efektif apapun sebuah terapi tetap ada kemungkinan gagal. Seaman apapun suatu obat, ada kemungkinan efek tak diharapkan. 

Kadang timbul ketidakpuasan pasien karena dokter tak mampu menyembuhkan, keharusan konsumsi obat seumur hidup atau mendapat terapi yang mahal dan tidak nyaman seperti pembedahan, kemoterapi, radioterapi. Beralihlah pasien-pasien itu ke terapi lain yang berani memberi harapan kesembuhan. Walau cara kerja,manfaat & efek samping terapi tersebut masih belum jelas, hingga justru bertentangan dengan kaidah sebab-akibat. 

Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, pakar kedokteran Islam dari IIUM (International Islamic University of Malaysia) berpendapat bahwa thibunnabawi tak hanya mencakup pengobatan pada zaman Nabi Muhammad shalallahu’alayhi wa sallam tapi juga mencakup pengobatan hari ini & masa depan.  Hadits “Tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah”  merupakan dorongan bagi kita untuk mencari cara dalam masalah pengobatan. 

Hadits ini menginspirasi para pasien dan dokter untuk selalu memiliki harapan. Orang yang sakit akan terus memilki harapan bahwa cepat atau lambat mereka akan mendapat obat yang menyembuhkan, sedangkan dokter akan terus bekerja keras menemukan obat untuk berbagai penyakit. Ini menunjukkan bahwa pengobatan Nabi tak hanya berhenti pada praktek pengobatan yang diajarkan beliau, tetapi lebih dari itu. 

Dan cara yang tepat untuk mengembangkan pengetahuan medis adalah melalui penelitian, mempelajari sunnatuLlah di alam semesta. Prof. Dr. Omar Hasan Kasule menyimpulkan bahwa sifat dari thibunnabawi tidak tetap, tapi bisa berkembang berdasar ijtihad dan penelitian empiris yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Metode kuratif yang dicontohkan Nabi shalallahu’alayhi wa sallam. Bukanlah suatu pembatasan untuk tidak mengembangkan metode lain. 

Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kedokteran.  lmuwan dan ulama Islam telah berperan penting dalam menemukan dasar ilmiah dalam mengembangkan ilmu kedokteran, di saat pengobatan barat di masa itu masih tidak rasional dan berdasar takhayul. Membatasi kedokteran Islam hanya pada metode yang diterapkan pada zaman Nabi shalallahu’alyhi wa sallam dan menutup mata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan adalah suatu bentuk kemunduran. Padahal para ilmuwan dan ulama Islam lah yang telah meletakkan dasar-dasar ilmu kedokteran modern. 

Semoga bermanfaat🙂

, , , ,

  1. #1 by Jefry on January 24, 2013 - 8:23 PM

    bener juga ya dalam Islam pun kita dituntut untuk mencari ilmu yang setinggi mungkin agar bisa berguna bagi masyarakat luas seperti dalam ilmu kedokteran
    terima kasih atas ulasannnya, bisa menambah wawasan saya

    • #2 by 3yuwono on January 24, 2013 - 10:39 PM

      Yap kt harus pintar ^_^ dan membagikan nya pd org lain. Sebaik2 manusia adl yg bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: