Menyikapi Pujian


Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli. HR Ad Dailami

Suatu ketika, Rasulullah pernah mengingatkan kepada seorang sahabat yang baru saja memuji temannnya setinggi langit, “Celakalah kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu,” kata Rasulullah. Beliau mengucpkannya berulang-ulang.

…Apabila seorang di antara kamu terpaksa harus memuji temannya, hendaklah ia berkata: “Aku mengetahui kebaikan si Fulan namun Allah lebih mengetahui keadaannya, & aku tidak memberikan kesaksian kepada siapapun yang aku ketahui di hadapan Allah karena Allah lebih mengetahui keadaannya yang sebenarnya. (HR. Muslim).

Kalimat ‘kamu telah memenggal leher temanmu’ ini adalah kiasan terhadap perbuata orang lain, Pujian itu perlu tapi jangan berlebihan. Karena pujian yang berlebihan akan membahayakan orang yang dipuji, bisa besar kepala dan sombong.

Sebesar apapun kadar kesombongan itu pasti akan membuat manusia sengsara, karena tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada rasa sombong meskipun seukuran molekul. Dalam Hadits lain menyebutkan, Abu Musa ra, ia berkata, Rasulullah mendengar seorang yang memuji orang lain secara berlebih-lebihanan, maka beliau bersabda: “Sungguh kamu telah membinasakannya atau telah memotong punggung orang itu.” (Shahih Muslim)

Mungkin itulah yang menjadi pertimbangan mengapa pujian yang berlebihan itu dilarang. Selain dianggap ”memenggal leher” Pujian juga dianggap sebagai ”mematahkan punggung” dan ”menaburkan tanah ke muka.” So, Berhati-hatilah memuji, kalau tidak sangat perlu jangan memuji, karena pujian bukan untuk manusia.

Seperti yang kita ikrarkan dalam salat saat membaca Al Fatihah, bahwa alhamdulillahi rabbil alamin, segala Puji bagi Allah tuhan sekalian alam, jadi sesungguhnya manusia itu tidak berhak dipuji, apalagi sampai minta pujian. Ketentuan Allah itu benar adanya. Pujian itu hanya untuk Allah, tapi kalau ditujukan kepada manusia apalagi yang berlebihan – maka dampaknya pasti tidak baik.

Biasanya pemujinya punya tendensi , sedangkan orang yang menerima pujian merasa bangga dan pada akhirnya besar kepala dan sombong. Orang yang terbiasa dipuji, bila suatu saat pujian itu tidak ada, dia akan merasa tidak enak, bahkan bisa berubah jadi amarah.

Apakah kita tidak boleh memuji ? Dalam kadar tertentu pujian itu diperlukan untuk memotivasi agar lebih baik lagi, agar bisa menjadi teladan bagi yang lain, tapi kalau berlebihan bisa membuat penerimanya menepuk dada. Apalagi kalau para pemuji memiliki tendensi di balik pujiannya itu, pujian itu tidak akan ada manfaatnya.

Begitu berbahayanya pujian itu sampai Rasulullah mengingatkan bahwa memuji berlebihan sama dengan membunuh orang yang dipuji. Kalau kita menjumpai prestasi diraih seseorang, kita layak memuji sepantasnya. Sebaliknya kalau ada kekurangan, kita berhak untuk mengritik demi kebaikan, bukan kritik untuk menjatuhkan.

Pujian & kritik adalah 2 hal yang penting untuk membangun semangat mnju kemajuan, tapi keduanya harus dilakukan dengan cara yang elegan, jujur & ikhlas. Jadi, hati-hatilah memuji, karena bisa menjadi alat ”pembunuh” bagi saudara kita yang dipuji.

Alhamdulillahi rabbil alamin, segala puji bagi Allah Tuhan penguasa alam. Semoga bermanfaat.🙂

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: