Menulislah…

Menulislah setiap hari, meski hanya 1 halaman. Menulislah meski 1 buku seumur hidupmu! Bagaimana agar bisa percaya diri dalam menulis? Kita lebih percaya diri saat menulis pengalaman hidup sendiri. Bagaimana agar bisa percaya diri dalam menulis? Tulislah dari sumber keilmuan yang benar-benar kita kuasai.

Kalau ada yang kritik tulisan kita gimana? Alhamdulillah, dia sudah baca tulisan kita, revisi sesuai kemampuan kita. Hitungannya gimana? Caranya 1 hari = 5 halaman, jadi 30 hari = 150 halaman = 1 buku. Insyaallah bisa!  Kadang bad mood menulis? Jalan-jalan, baca buku, diskusi dengan penulis lain. Carilah stimulus menulis. Bolehkah meniru gaya menulis dari penulis idola? Boleh, jangan lama-lama, miliki gaya bahasa sendiri.

Masih malas menulis? Bisa jadi kurang memiliki ‘jiwa berbagi’, sebab menulis itu berbagi ilmu, sedekah ilmu. Ayo! Menulislah, meski 1 buku seumur hidupmu. Wariskan ‘ilmu hidup’ untuk anak-cucu. Siap? . Apa manfaatnya menulis setiap hari? Menulis itu keterampilan, butuh dilatih, bukan soal bakat. Menulislah! Sudah banyak baca buku tapi kurang manfaat? Coba ‘tuliskan kembali’ apa yang sudah kita baca. Membaca + Menulis.

Menulis 1 buku royaltinya cuma 8-10%? Tidak apa-apa, insyaallah pahala kebaikan jauh lebih besar dari itu. Yakinlah! Tadi ada ide bagus, tapi sekarang lupa, gimana? Ya dicatat di buku khusus, namanya ‘bank ide’, kumpulkan ide.

Gimana agar naskah diACC penerbit? Naskah asli, unik, beda dengan banyak buku yang sudah terbit, sasaran pembaca harus jelas. Kenapa naskah ditolak penerbit? Tema udah basi, banyak buku terbit sudah membahasnya, jadi harus BEDA, ya? Inilah tulisan pemenang lomba menulis dari Pesantren Penulis, periode April 2012. Cek ya di http://t.co/NeMHG2Di

Kenapa tulisan saya jelek? Kalau masih belajar tidak apa-apa. Asal mau terus berlatih, bisa karena biasa, ya? Tapi tulisan saya benar-benar jelek kok! Hush.., jangan menghakimi tulisan sendiri, biarkan pembaca yang menilai. Ok?

Buktinya, tulisan saya sering kalah lomba, gimana? Hhhmm.., Bisa jadi tulisan belum sesuai dengan ketentuan panitia. Baca lagi tulisan kita yang lama, kalau kita tertawa membaca tulisan itu, berarti saat ini kita sudah ada peningkatan. Jika setiap hari menulis, jangan lupa menimba ilmu di @dakwatuna, baca-baca biar tulisan kita jadi semakin bermakna.

Ayo belajar dari karya-karya @salimafillah, agar kualitas tulisan kita semakin meningkat.  Menulis cerita anak jelas butuh keahlian, tak asal-asalan. Yuk kita belajar dari Mas @alimuakhir :)  Kita tidak sekadar menulis buku, tapi menuliskan gagasan dan cita-cita. .

Menciptakan karakter tokoh? Buat sealami mungkin. Sebaiknya cerita berfokus pada sedikit tokoh saja.  Menciptakan karakter tokoh? Bangun karakternya melalui perilaku/sikap tokoh, melalui logat dialognya, jangan emosinya.

Menciptakan nama tokoh? Nama tokoh, bisa juga menunjukkan karakternya. Apa yang kamu pikirkan tentang nama Firaun? :) Menciptakan tokoh? Kamu berhasil ketika melepaskan karakter tokoh dengan karakter kamu sendiri.

Menciptakan tokoh? Bisa juga karakternya dituliskan secara langsung. Misalnya, dia sering marah-marah tanpa sebab :) Menciptakan tokoh? Dalam perjalanan cerita, karakter tokoh bisa saja berubah. Yang tadi pemarah, jadi pemaaf: bisa! Sesibuk apapun, tetap luangkan waktu untuk menulis 1 halaman 1 hari Belajar dari Kak @oki_setiana :)

“Menulislah setiap hari, meski 1 halaman. Menulislah meski 1 buku seumur hidupmu!” @dwi_suwiknyo  Apa manfaat menulis? Menulis itu menyembuhkan, penuh ekspresi, agar perasaan plong, tidak menahan sakit hati :)  Seni menulis: buat paragraf cukup maksimal 6 kalimat, 1 kalimat maksimal 6 kata ya. Buat kalimat pendek-pendek aja.

Nah, pilih mana: pintar dulu baru nulis, ato belajar sembari nulis biar tambah pinter? Kenapa harus menulis? Kira-kira kenapa hayo?🙂 Coba tebak Menulis itu, benar-benar bikin sehat. Menulis, agar tidak ada perasaan yang terpendam bisa bikin sakit. Menulis = bikin plog🙂

Jadi Penulis = Jadi Pejuang! Mentalnya harus kuat, jangan lebay donk! Sama-sama penulis, yang membedakan adalah sikap dan mentalnya. *Pembaca semakin pandai lihat akhlak penulis juga. Bisa dilihat saat bedah bukunya, apakah akhlaknya sama dengan tulisannya? Bisa dilihat ya.

Kualitas tulisan adalah cerminan kualitas diri penulis, iya kan? Sebab tulisan adalah cerminan diri penulisnya, ya?  Penerbit juga mempertimbangkan profil penulisnya, terkait naskahnya, agar apa? Agar pembaca tidak kecewa🙂 he.. Saat bedah buku, yang pertama dibaca moderator adalah profil penulis, so? tingkatkan kualitas diri para penulis :)  Jadi kalau kamu penulis, maka latihan juga jadi pembicara, sebab kamu akan bedah buku, ok

Penulis dan Pembicara itu 1 paket, kuasai ilmu keduanya: KOMUNIKASI. Bagaimana Rasul shalallahu’alayhi wasallam berkomunikasi? :)  Komunikasi: lisan = tindakan = hati = pikiran = tulisan = isinya sama.🙂 Penulis harus JUJUR. Siap?  Penulis yang bohong, bisa kelihatan saat bedah buku, lisannya jauh dari tulisannya. Kok bisa tulisan lebih bagus? :)  Penulis bisa percaya diri saat menulis, seharusnya juga sama: saat jadi pembicara juga harus PeDe, ok?  :) Jadi, sumbernya HATI ya? Menulis dan jadi pembicara saat bedah buku: kuncinya bersih hati.

Kita ulang lagi ya: menulis itu bisa, sebab terbiasa. Menulislah setiap hari, siap? Biasakan pagi ngetik 1-2 halaman, malam juga 1-2 halaman, rutinkan ya, sesuaikan waktunya. Jangan mudah bosan membaca dan menulis, kualitas diri kita sebagai penulis ada di 2 proses itu.  Kalau pas nggak punya buat ditulis, lebih baik buat resensi buku aja. Tambah kualitas diri, yes! MeResensi buku itu melatih daya baca & daya tulis kita.

Punya buku? Tapi lupa isinya, bisa jadi karena membaca belum memberdayakan, maka resensilah!🙂 Resensi: apa yang kita pahami dari isi buku itu, kita tuliskan ulang. Cari isi kandungannya, Kalo biasa resensi buku, buat skripsi itu insyaallah mudah. Kajian pustaka itu basicnya resensi. Daftar Pustaka itu bunyi di isi buku kita, nggak cuma Copy-Paste ya! Copas itu memalukan!

Solusi Anti Copas itu: baca + pahami + tuliskan dengan gaya bahasa kita sendiri, siap? Penulis bukanlah Penyusun, meski kliping ada ilmunya, tapi penulis tidak pakai ilmu itu. :)Penulis percaya diri dengan Gaya Bahasa yang ia miliki, tulisannya lebih Khas dirinya sendiri.

Penulis menuliskan pikiran dan perasaannya. Sebab itu: setiap penulis punya Ciri Khas. Nah, seringnya menulis akan membuat Ciri Khasnya itu hadir di tulisan kita. Buktikan! Kenapa buat skripsi susah? Sebab mahasiswa jarang menulis, buat makalah pun copas dari internet, ya? :)  Biasakan menulis, buat makalah akan mudah kalau kita terlatih. Sering-seringlah nulis artikel/esai.

Latihannya: kalo kita punya opini atas suatu masalah: dituliskan. Opini ditulis, tempel mading, blog. Nah, mahasiswa pun wajib punya blog buat latihan menulis, latihan menuliskan gagasan & opini. Ok?

, , , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: