Menghargai Waktu

Kita, terbiasa menggunakan ukuran waktu untuk mencapai target atau mengevaluasi diri. Bisa detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun, windu, abad, hingga milenium. Di arena balapan F1 atau MotoGP, betapa berharganya ukuran waktu dalam hitungan detik, atau sepersekian detik. Siapa yang pandai memanfaatkan posisi start dan bisa memacu serta mengendalikan kendaraan balapnya, dialah pemenangnya.

Lebih cepat seperseratus detikpun sangat berpengaruh bagi kemenangan. Di arena pacuan balap macam F1 dan MotoGP, setiap pembalap hanya diberi kesempatan sekian putaran yang telah ditentukan. Masing-masing harus brusaha memacu tunggangannya secepat mungkin tanpa melakukan kesalahan saat menginjak rem, oper gigi, dan meliuk di tikungan.

Para pembalap juga ada batas waktunya dalam mengumpulkan poin demi poin untuk meraih tangga juara. Jika selalu gagal dalam setiap sirkuit arena balap, alamat makin tipis peluang mendulang poin untuk menjadi juara. Valentino Rossi pernah merasakn pahit getirnya arena balap MotoGP saat poinnya tak cukup mengejar Nicky Hayden, Casey Stoner,& Jorge Lorenzo. Sehingga ketiga orang itu secara bergiliran pernah menggusur Rossi dari podium juara MotoGP.

Lalu, bagaimana jika kita bicara di arena kehidupan dunia? Kita khawatir, apa yang kita perbuat di dunia, tak lebih dari skadar mencintai dunia. Padahal, dunia ladang amal untuk dikumpulkan sebagai bekal di kehidupan akhirat. Jatah usia setiap manusia setiap detiknya jelas berkurang.

Kita,kadang melupakan ‘hal kecil’ dalam ukuran waktu bernama detik, sehingga nyaris diabaikan. Sebaliknya, ukuran tahun, sering menjadi ukuran yang sangat diperhatikan. Mudah sekali mengingatnya. Gampang nian untuk dijadikan sebagai tonggak evaluasi. Padahal, beberapa detik yang lalu, yang kita gunakan untuk bersantai, >>Sejatinya kita telah mengabaikan peluang untuk melakukan kebaikan.

Apalagi jika berlalunya waktu yang bebebapa detik itu malah digunakan untuk maksiat. Celaka sekali. Naudzubillah min dzalik. Allah Subhanahuwata’ala. berfirman (yang artinya): “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. >> Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran >> dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)

Imam ar-Razi dalam tafsirnya mengenai keterkaitan antara waktu dan kerugian menyatakan: “Ketika rugi dipahami sebagai hilangnya modal,>> sementara modal manusia adalah umur yang dimilikinya, maka manusia senantiasa mengalami kerugian.>>

Sebab, setiap saat dari waktu ke waktu umur yang menjadi modalnya terus berkurang.” Menyimak pendapat Imam ar-Razi, rasanya pantas kita merenung sangat dalam. Kita bisa membayangkan, bagaimana jadinya diri kita, >> jika umur yang kita miliki dengan jatah yang makin berkurang setiap detiknya, digunakan utk mengerjakan yang maksiat kepada Allah Subhanahuwata’ala.?

Bukan tak mungkin kita bisa bangkrut. Semoga kita terhindar dari hal yang demikian. Mengais amal shalih di sisa waktu usia rasanya amat berat. Selain harus berjibaku memanfaatkan peluang yang makin tipis karena >>dibatasi waktu yang kian berkurang, juga pantas merasa khawatir dengan godaan dunia yang sungguh memikat.

Sehingga membuat kita terlena dan akhirnya malah melupakan amal shalih yang semestinya diraih. Hidup di dunia bukanlah tempat untuk beristirahat dengan tenang. Tetapi tempatnya bekerja keras mengumpulkan pahala. Apalagi jika kita mampu menerjunkan diri dalam dakwah dan perjuangan demi tegaknya syariat Islam di muka bumi ini.

Usia kita hanya ukuran untuk menunjukkan dari muda menjadi tua. Amat rugi tentunya, ketika tambah usia, tetapi yang bertambah adalah dosanya. Kita semua berharap bahwa semakin tua usia kita, semakin banyak amal shalih yang dikoleksi karena jatahnya untuk beramal kian berkurang.

Ada baiknya kita semua merenungkan sabda Rasulullah shalallahu’alihi wasalam.: “Belum hilang jejak telapak kaki orang-orang yang mengantarnya ke kubur, >>seorang hamba (yang telah habis usianya) akan ditanya mengenai empat hal,yaitu;

hal usianya ke mana dihabiskannya, >>hal tubuhnya untuk apa digunakannya, hal ilmunya seberapa yang diamalkannya, >>serta hal hartanya dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya.” (HR Tirmidzi) Hanya kepada Allah Subhanahuwata’ala. kita berharap memohon segala ampunan dan barokah-Nya. Semoga postingan sederhana ini bermanfaat bagi kita semuanya Amiin

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: