Mendidik Anak

Pendidikan = alat rekayasa sosial. Siapa dididik apa sekarang, bisa menentukan siapa duduk dimana kelak. Kita sering diskusikan masalah pendidikan secara amat serius, sambil asumsikan ada orang lain yang akan kerjakan.  Pendidikan=persiapan masa depan. Pendidikan bukan sekadar Program Pemerintah. Pendidikan harus jadi gerakan semesta. Bayangkan jika mempertahankan kemerdekaan itu dipandang sebagai program Kementrian Pertahanan? Let’s own the problem! Berhenti lipat tangan, mulai turun tangan. 

Dalam berkomunikasi denga anak, ada 2 hal yang tidak boleh dilupakan oleh para orang tua. pertama, bantu rumuskan perasaaan anak, kedua, membantu membangkitkan kesadaran diri anak. Dua hal tersebut sangat penting bagi orang tua untuk membangun mental. Kepada anak balita yang belum bisa berbicara sekalipun, usahakan senantiasa kita ajak berkomunikasi. Meski masih bayi, rumuskan perasaan anak scara verbal. Agar kelak ia trbiasa & trampil rumuskan perasaan hatinya scara verbal. 

Untuk kepentingan ini, kita akan ambil contoh-contoh komunikasi yang sering kita dengar di sekeliling kita. “Masa segitu aja nggak bisa, sih?” Begitu sering kita dengar beberapa orang tua komentari anaknya. Apa yang salah dari komentar itu? Dengan komentar seperti itu, kita tidak saja melakukan stimulasi yang berlebihan, tetapi sekaligus juga memojokan anak. Biasanya anak yang terpojok harga dirinya akan runtuh. Dengan harga diri yang runtuh, potensi anak cendrung layu, bahkan bisa mati. 

Nah, komentar kita yang ‘sembarangan’ sangat berpeluang besar mematikan potensi yang dimiliki anak, termasuk potensi kreatif. Sejak anak berusia 8-9 bulan sebenarnya telah kembangkan emosi negatif & positif, hanya saja tidak bisa ekspresikan dengan kata-kata. Bukan semata-mata disebabkan karena kekurangan kosa kata, tetapi terlebih lagi karena anak belum mampu identifikasi emosinya. Karena itu kita perlu bantu anak agar mampu identifikasi emosinya dengan cara rumuskan emosi kita sndiri & bantu rumuskan emosi anak. 

Ketika anak marah, sekalipun masih bayi, kita bisa rumuskan kemarahannya dalam bentuk verbal, baik dengan komentar atau pertanyaan. Misal, “kamu sedang marah ya sayang?” atau ” Oh, kamu seperti ini karena lagi marah ya?”  Dengan ungkapan-ungkapan seperti itu, anak akan belajar mengindentifikasi emosinya. Coba pernyataan itu kita bandingkan dengan pernyataan lain. Misal,”Kamu ini memang nakal!” “Kenapa sih kamu rewel begini?” Nah, tanpa analisis mendalam pun pernyataan ini sangat pojokan anak.

Mengajari anak rumuskan emosinya (baik negatif/positif) merupakan sebagian cara ajari anak tentang kesadaran diri. Kalau anak sudah mampu mengindentifikasikan emosinya, berarti kesadaran diri anak sudah mulai tumbuh. Seperti contoh tadi, kalau anak marah kita bantu rumuskan dengan ungkapan-ungkapan bijak. Ungkapan itu skaligus kita jadikan sarana untuk berikan perhatian tulus, bahkan cinta tulus kpd anak-anak kita. Misal dengan katakan, “Sedang marah ya sayang?” Demikian juga kalau anak sedang sedih, kita bantu rumuskan dengan ungkapan seperti, “Kenapa sayang, kok kelihatan sedih?” atau “Lagi sedih ya, kenapa?”. Dengan ungkapan-ungkapan seperti itu, anak akan menyadari perasaan atau emosinya sendiri.

Adapun kita, tidak bijaksana kalau hanya sebatas bantu rumuskan. Kita juga harus bantu carikan solusi, bukan malah salahkan anak. Menyalahkan misal dengan mengatakan, “Sudah! Begitu aja kok sedih!” atau “Ah, dasar cengeng!” Ungkapan tsb bukan solusi bagi anak. Kita mencari tahu, apa sumber kesedihannya, misal dengan berkata, “Adek sedih karena bonekanya hilang ya?” Lalu berusaha bantu, misal berkata, “Yuk mama bantu carikan. Yuk, kita cari bersama-sama.” atau diperjelas dengan bertanya,”Terakhir kali, Adek taruh mana?” dengan masalah yang sudah semakin jelas, tawarkan bantuan, “Ayo, kita cari bersama-sama.” 

Kita juga bisa ungkapkan perasaan atau emosi kita. Ketika anak marah dan mengekspresikan dengan memukul kita bisa berkata,”Kalau kamu marah, tidak boleh memukul seperti itu. Mama tidak senang.” atau kalau anak sedih & ngambek, bisa katakan,”Mama merasa terganggu kalau kamu seperti itu terus. kalau kamu begitu, mama juga ikut sedih loh.” Dengan cara-cara sederhana itu, kita sedang mengajarkan kesadaran diri kepada anak. Terutama kesadaran diri akan emosinya. Lama kelamaan anak akan semakin pahami kesadaran dirinya. Dan dengan kepahaman tsb, anak akan semakin trampil kendalikan emosinya. 

🙂 Semoga bermanfaat, dan bisa kita implikasikan dengan segera…

, , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: