Memahami Media

Berbagi materi dari Amir Effendi Siregar tentang Memahami Media. SIkap kita dibentuk oleh kebiasaan kita menonton televisi dan atau radio dalam jangka waktu yang panjang. Media dapat membentuk persepsi pendengar atau pemirsa terhadap mana yang penting saja.

Karena pendengar atau pemirsa sudah punya referensi. Media saat ini terbagi atas: Media komersil dan media propaganda. Kalau media didirikan untuk tujuan komersial, maka konten dari media tersebut harus merefleksikan selera pasar.

Tahukah sahabat, potensi pembaca Indonesia sangat kecil. Media cetak kita hanya 25 juta eksemplar. Ini dikarenakan daya beli dan pendidikan. Sedangkan potensi pemirsa televisi sangat besar, daya jangkaunya hingga 75% penduduk.

Apalagi televisi yang “free to air”. Free to air artinya, dapat diakses secara gratis atau cuma-cuma. Karenanya harus diatur secara ketat atau Highly Regulated. Pengaturan ketat atas siaran televisi yang free to air ini dilakukan di banyak negara maju. Amerika Serikat, Eropa, dan Australia.

Amir Effendi Siregar, “Free to Air memang harus HIgh Regulated, kata-kata kotor, kekerasan, cabul tidak boleh keluar dari televisi tersebut”. Siapa yang mengatur media? Semua konten di ranah penyiaran baik junalistik ataupun non jurnalistik, ditangani oleh KPI.

Namun untuk konten jurnalistik di penyiaran, KPI berkoordinasi dengan Dewan Pers. Ikut sertanya KPI dalam pengawasan jurnalistik di dunia penyiaran dikarenakan, adanya penggunaan public domain yang bernama frekuensi. KPI mengeluarkan aturan tentang konten penyiaran, yakni Pedoman Perilaku Penyiaran dan Sistem Program Siaran (P3 & SPS).

Dalam P3SPS ini terdapat sanksi atas pelanggaran yang dilakukan lembaga penyiaran dalam sebuah program. Berupa teguran hingga pengurangan durasi. KPI pernah memberikan pengurangan durasi, atau penghentian sementara program siaran di sebuah lembaga penyiaran. Apakah itu bisa disebut pembreidelan? kebetulan program yang diberikan sanksi tsb, salah-salanya program jurnalistik di lembaga penyiaran.

Menurut Amir Effendi Siregar, Pengurangan Durasi bukanlah Breidel. Karena saluran frekuensi masih tetap berjalan dan bisa digunakan. Sekarang terjadi pergeseran dominasi media, dari penguasa ke para pemilik modal. Itulah mengapa diversity of ownership & content tidak berjalan. Data saat ini, di Indonesia ada lebih dari 300 televisi lokal yang bersiaran di seluruh negeri. Dan 218 diantaranya dimiliki, Jakarta.

Pemusatan kepemilikan lembaga penyiaran ini tidak mewujudkan demokratisasi siaran. Ini juga yang sedang diujimaterikan di Mahkmah Konstitusi. Demokratisasi siaran hanya bisa diwujudkan dengan adanya, Freedom of expression, Freedom of speech, Freedom of PRess.

Juga harus didukung Harus didukung dan dijamin dengan Diversity of Ownership , content and area. Serta distribusi informasi yang sesuai peruntukan. Tak heran, kalau masalah kepemilikan ini menjadi salah satu isu penting dalam revisi Undang-Undang Penyiaran. Disamping tentu saja, isu yang mengemuka adalah Isi dan Netralitas Media Penyiaran….🙂

Sekarang kita bicara DIet TV: Upaya Mengurangi Dampak Buruk TV Berbasis Keluarga. Diet Media itu penting. Karena TV sudah jadi kebutuhan yang sama pentingnya denga Sandang-Pangan-Papan. Bahkan di beberapa daerah, banyak yang lebih utamakan TV daripada kebutuhan perumahan.

Banyak saya temui, rumah-rumah gubuk tapi punya TV 29 inch. Tak heran kalau kecanduan tv sudah jadi jadi fenomena di banyak tempat. Padahal informasi di TV saat ini sudah banjir. Sedangkan menonton merupakan kebutuhan utama. Ini karena menonton bukanlah aktivitas terencana. Betapa banyak kaum ibu yang membiarkan anak-anak nonton TV, agar terlihat “tenang-tenang” saja, tidak menganggu aktivitas orang tua… :”(

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: