Lari Menuju Allah

 

Melarikan diri dari pertempuran adalah kepengecutan yang dicela al-Quran. Dosa besar mengkhianati pengorbanan. Bagaimana jika lari dari tanggung jawab?

Lari dari tanggung jawab juga pilihan para pecundang yang takut hadapi resiko sikap yang mereka pilih. Padahal,amanah itu kan dipertanyakan ulang.

Lari dari masalah, bukan obat mujarab. Justru mengendapkan masalah, bukan mencari solusi. Maka hadapilah sampai masalah menyerah padamu. 

Pelarian, pelampiasan, persembunyian adalah ekspresi pengalihan kondisi sesungguhnya. Sebagian besar gambarkan kondisi jiwa pelakunya. 

Lari dari takdir-Nya juga bisa sebabkan frustasi. Mengganggu kualitas hidup. Dan makin kuat bisikan tuk segera mengakhirinya dengan cara pengecut. 

Satu-satunya lari yang dianjurkan dalam al-Quran adalah LARI MENUJU ALLAH (Fafirru ilallah), karena memang perlu bersegera sebelum terlambat.

Untuk kebaikan justru dianjurkan bersegera, berlari, berlomba, bersaing & berpacu (fafirru,wasari’u,sabiqu,falyatanafas). Raih prestasi.

Wajar, jika saat berlari terjatuh. Apalagi jika lari kencang, bisa mencederai. Tapi bagi pelari ulung, dia tau aturan & kualitas diri atasi kelemahan.

Para pelari itu sibuk pikirkan rekor demi rekor atas capaian pretasi mereka. Namun mereka juga sportif agar tak terdiskualifikasi.

Berlarilah sekuatnya, ukir prestasi, bermanfaat tuk sebanyak mungkin makhluk-Nya, jadilah yang terbaik dari yang baik (waj’alna lil muttaqina imama)

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: