Berinfak Sebagai Gaya Hidup

Gaya hidup (lifestyle) didefinisikan sebagai perilaku, termasuk bagaimana sese¬orang menggunakan uangnya, mengalokasikan waktu, dsb. Menurut ahli psikologi, gaya hidup mrupakan sesuatu yang tidak terpisahkan dari konsep diri dan pandangan hidup (way of life) seseorang.

Seorang yang konsep diri dan pandangan hidupnya dibentuk oleh nilai-nilai Islam, maka akan menampilkan gaya hidup yang Islami. Pandangan hidup sekularis, materialis, individualis-apalagi ateis, melahirkan gaya hidup yang sangat berbeda dengan gaya hidup Islami.

Salah satu ajaran yang elementer dalam Islam, adalah infaq yang esensinya adalah memberi atau berbagi kepada orang lain. Infaq merupakan pelengkap dari kewajiban zakat sebagai rukun Islam. Dalam Al Quran (QS Al Baqarah [2]: 3-5) diungkapkan diantara ciri orang yg mendapat petunjuk dari Tuhan dan orang yang beruntung.Orang yang beruntung di antaranya ialah yang menafkahkan (meng¬infaqkan) sebagian rezeki yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka.

Dalam Al-QURAN DAN TERJE¬MAHNYA dijelaskan maksud “menafkahkan sebagian rezeki”. Al-QURAN DAN TERJE¬MAHNYA,disusun oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran, KemenAg RI tahun 1967  Ialah “memberikan sebahagian dari harta yang telah diberikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyariatkan oleh agama memberinya. Seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain”

Kesadaran untuk memberi atau berbagi mengandung hikmah dan pengaruh positif. Terutama dari sudut kepentingan pembinaan pribadi umat yang berkualitas dan pem-bangunan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan.

Pertama, pengaruh infaq terhadap etos kerja. Orang yang rajin berinfak dan menyadari infaq sebagai kebutuhan dan gaya hidupnya. Orang yang rajin berinfak tidak mungkin malas bekerja. Orang yang rajin berinfak, etos kerjanya akan semakin meningkat, dia tekun dan rajin bekerja sesuai dengan bidang dan profesinya. Hasil kerja mereka yang rajin berinfak tidak hanya untuk kebutuhan dan memperkaya diri, tapi sebagian adalah untuk diinfaqkan dijalan Allah.

Kedua, infaq memperkuat kesetiakawanan sosial di dalam kehidupan masyarakat. Sikap dan perilaku sosial perlu dipelihara dan diperkuat di tengah arus perubahan sosial dewasa ini, di antaranya adalah simpati dan empati terhadap orang-orang yang bernasib kurang beruntung. Seperti fakir miskin, anak yatim dhuafa, atau untuk menanggulangi kebutuhan umum lainnya. Salah satu cara yang efektif untuk memelihara dan memperkuat sikap dan perilaku kesetiakawanan sosial adalah dengan berinfaq.

Ketiga, infaq menumbuhkan izzah (harga diri) terhadap orang yang berinfaq. Sekaligus memelihara masyarakat dari perbuatan meminta-minta. Izzah atau harga diri karena berinfaq bukanlah untuk riya dan dibangga-banggakan. Orang yang membia¬sakan diri berinfaq akan bersyukur. Mensyukuri bahwa dia bisa menjadi bagian dari masyarakat muslim yang menunaikan tanggung jawab sosial dalam kehidupan ini.

Menarik untuk direnungkan, anjuran berinfaq dalam Islam tidak dikaitkan den¬gan perbuatan mengemis dan meminta-minta. Tapi dikaitkan dgn tanggung jawab sosial seorang muslim terhadap fakir miskin, kerabat, dan kaum muslimin pada umumnya. Hidup yang tidak memperhatikan penderitaan orang lain, bukanlah hidup yang Islami. Dalam tataran yang lebih luas, kemandirian bangsa akan bisa dibangun dengan membiasakan berinfaq.

Keempat, dengan infaq, kesenjangan akan dapat semakin diperkecil antara golongan yang mampu dengan yang tidak mampu. Pengalaman beru¬lang kali mengajarkan pada kita bahwa kesenjangan yang dibiarkan menganga akan menimbulkan masalah-masalah sosial. Kesenjangan sosial yang dibiarkan pada gilirannya akan merugikan semua pihak.

Kesenjangan sosial dapat dikurangi dan diatasi dengan membudayakan infaq sebagai gaya hidup. Kondisi perekonomian umat dan bangsa yang suram, tidak akan berubah, kecuali setiap orang berbuat sesuatu sesuai kesanggupan. Berbuat sesuatu untuk mengatasi dan mengurangi beban yang menghimpit saudara-saudara kita.

Sejalan dengan sabda Nabi Muhammad shalallahu’alayhi wasallam yang menggambarkan hubungan seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagai satu bangunan. Dimana pada satu bangunan, antara satu bagian dengan bagian lainnya saling menopang dan memperkuat satu sama lain. Dengan berinfaq harta akan bertambah dan berkembang sesuai dengan janji Allah dalam Al Quran.

Seseorang yang berinfaq untuk mencari keridhaan Allah, maka Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda. Seorang muslim tidak perlu ragu dan khawatir untuk menginfaqkan hartanya di jalan Allah. Rasulullah bersabda, “Tidaklah berkurang harta yang disedekahkan itu” (HR Muslim)

Dalam kaitan ini, menarik disimak pe¬nelitian sosial yang belum lama ini dipublis oleh University of British Columbia, Vancouver.  Prof. Elizabeth W. Dunn, mengadakan penelitian terhadap 632 orang responden. Responden adalah orang Amerika dari seluruh negara bagian, berpenghasilan rata-rata USD 20.000 – USD 50.000.

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan gaji besar yang peroleh setiap bulan. Sebaliknya, mereka merasa bahagia saat gaji yang diperolehnya digunakan untuk kegiatan amal. Hasil penelitian tersebut membuktikan kebenaran ajaran Islam yang sejak lima belas abad silam. Islam mengajarkan bahwa doa orang yang menerima infaq akan meningkatkan berkah harta. Selain berkah harta, juga membawa ketenteraman jiwa orang yang berinfaq itu sendiri.

Islam m’ajarkan bahwa orang yang ikhlas melepaskan orang lain dari kesulitan, maka ia pun oleh Allah akan dilepaskan pula dr kesulitan. Sekiranya hal itu tumbuh menjadi sikap kolektif yang melibatkan sebagian besar anggota masyarakat dan bangsa. Tentu dampak dan pengaruhnya sungguh luar biasa terhadap kehidupan masyarakat dan bangsa.

Dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita yang mayoritas penduduknya muslim ini, peluang untuk berinfaq terbuka begitu luas. Berinfaq bisa diberikan langsung kepada mereka yang membutuhkan, kapan dan di mana saja. Kita juga dapat berinfaq melalui badan-badan yang mengelola dan mendayagunakan dana zakat dan infaq secara amanah dan profesional.

Berinfaq lewat badan yang mengelolaelola dan mendayagunakan dana zakat infaq secara amanah dan profesional akan mberikan manfaat luas kepada umat. Tidak sedikit pula lembaga-lembaga umat yang mengelola sarana fi sabilillah seperti madrasah, pesantren, panti asuhan, dll. Dimana lembaga-lembaga umat tsb membutuhkan infaq kaum muslimin yang dititipkan Allah rezeki lebih dari cukup.

Kesadaran untuk berinfaq sebagai gaya hidup perlu dididik dan ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini lembaga-lembaga umat. Selain melalui pembiasaan, tetapi juga perlu keteladanan orang tua dalam keluarga. Mencintai sesama dengan memberi atau berbaagi seyogianya menjadi gaya hidup yang membudaya di masyarakat kita. Wallahu a’lam bisshawab. Demikian pesan dari Ketum BAZNAS, Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin, M.Sc

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: