Apakah kita termasuk orang-orang yang mudah melupakan jasa besar manusia?

Madinah Al-Munawwarah. Teringat aku padanya, kota yang dua kali lebih barakah dibanding Makkah Al-Mukarramah. Inilah kota yang menyambut guru, datang menjemputnya dan memberi pertolongan sepenuh hati. Inilah kota orang-orang Anshar. Tentang orang-orang Anshar, ada episode yang patut kita renungkan. Ada peristiwa di masa akhir kehidupan Rasulullah shalallahu’alayhi wasallam..

Ketika sakit semakin keras dan kematian semakin mendekat, Rasulullah shalallahu’alayhi wasallam bersabda tentang orang-orang Anshar. Kata Nabi shalallahu’alayhi wasallam, “Stiap nabi punya peninggalan & kaum Anshar adalah peninggalanku. Orang-orang lain makin banyak, sedang kaum Anshar sdikit. Terimalah yang baik dari mereka, dan maafkanlah yang bersalah dari mereka.

“Rasulullah shalallahu’alayhi wasallam keluar di saat sakitnya sudah cukup keras. Kaum Anshar menyongsong beliau dengan anak-anak dan para pembantu mereka. Beliau bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku di Tangan-Nya, aku sungguh mencintai kalian. Kaum Anshar telah menunaikan kewajiban mereka. Tinggal kalian. Maka, baikilah orang yang baik dari mereka dan maafkanlah yang bersalah dari mereka.” Beliau brsabda pula, “Wahai kaum Anshar, kalian akan mendapat diskriminasi setelahku.” Mereka bertanya, “Jika begitu, apa pesan Engkau?”, “Aku perintahkan kalian bersabar sampai kalian bertemu Allah subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya.”

Ummu Fadhl binti al-Harits bercerita bahwa ia mengunjungi Nabi shalallahu’alayhi wasallam pada waktu beliau sakit: Aku menangis. Beliau mengangkat kepala, lalu bertanya, “Mengapa kamu menangis?”, “Kami mencemaskan engkau. Kami pun tidak tidak tahu apa yang diperbuat orang terhadap kami setelah engkau meninggal.” Beliau menjawab, “Kalian adalah orang-orang yang dianggap lemah setelahku.” Kata-kata mengharukan di akhir kehidupan Nabi shalallahu’alayhi wasallam ini dipetik dari buku karya Muhammad Mahir al-Buhairi, Saat-saat Mengharukan dalam Kehidupan Nabi dan Sahabat.

Ada yang perlu untuk kita renungkan dari nukilan kisah yang baru saja kita baca. Mereka yang tulus menolong, ada kalanya harus tersisih oleh mereka-mereka yang datang kemudian. Mereka yang tulus berjuang, tak jarang harus rela untuk dipinggirkan oleh mereka yang datang ketika pesta tepuk tangan sudah dilangsungkan. Tetapi, perjuangan harus tetap berjalan, dan kebenaran tak boleh berhenti diperjuangkan. Berpijak dari nukilan kisah tadi, agaknya ada yang harus kita renungkan lebih dalam.

Ada yang harus kita periksa dengan saksama dalam diri kita, apakah kita termasuk orang-orang yang mudah melupakan jasa besar manusia? Tak jarang, mereka-mereka yang memberi peran sangat berarti, segera kita anggap lemah dan kita lemahkan. Terkadang itu bukan hanya dilakukan oleh mereka-mereka yang menjadi penumpang dari keberhasilan sebuah perjuangan, melainkan justru oleh seorang yang turut mengawali perjuangan. Hanya saja, ia terburu merasa diri sebagai pahlawan. Ia merasa memiliki kekuatan, sampai datang masa ketika Allah menunjukkan bahwa ia lemah.

Kita tak berdaya kerap kali bukan karena hilangnya kekuatan, melainkan karena kita tak tahu menghargai ketulusan. Mereka yang dengan tulus menemani kita berjuang, mendoakan dari kejauhan, menyediakan tangannya untuk memupus letih & kesedihan kita, terkadang kita lupakan justru di saat kita hampir menuai keberhasilan. Kita teperdaya oleh tepuk-tangan yang datang dengan bergemuruh & bergelombang, sehingga kita menyangka di sanalah terletak kekuatan. Kita larut di dalamnya, sehingga meninggalkan sahabat-sahabat yang ikhlas hatinya mengawal perjuangan kita. Kita tak lagi menyukai kehadirannya karena mereka memberi nasihat di saat orang lain memberikan tepuk tangan.

Sekali lagi, kita salah sangka. Kita mengira mereka yang mnyambut dengan wajah gembira adalah para kekasih yang tulus & pendukung perjuangan yang ikhlas. Kita menyangka mereka mencintai dengan sepenuh jiwa, sehingga kita tak menganggap ada mereka yang dulu menjadi penolong kita. Kita baru tersadar ketika mereka tak menyambut seruan kita, sebab mereka memang hanyalah orang-orang yang sedang menikmati tontonan. Tetapi di saat tersadar, tak setiap sahabat dapat kita rengkuh kembali untuk berjuang. Bukan karena hilangnya kesetiaan…. Bukan…..

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: