Artis Idola terbaru

Naluri untuk mengidolakan sesuatu/seseorang memang wajar pada diri manusia, disadari atau tidak disadarinya. Katakan tidak idolakan artis, namun ketahui seluruh kehidupan dan detail biografinya, bahkan memasang imajinya dimanapun, sama saja. Merasa cenderung kepadanya, memiliki ‘rasa’ saat melihatnya, kekaguman berlebih, merasa ajib hanya dengan keberadaannya, sama saja. Itulah mengidolakan secara sadar ataupun tak sadar, dan itu wajar karena manusia memiliki naluri itu, mencari patron, mencari idola.

Tak salah bila kita mengidolakan Rasulullah, para shahabat, dan generasi setelah mereka, sungguh amal mereka mengagumkan. Tak silap bila kita mengidolakan ahli Al-Qur’an dan hartawan yang ringan tangannya dalam membantu, kagum pada dua kelompok itu boleh. Namun, kagum pada artis? idolakan boyband?

kenapa diri ini merasa ini perkara yang terlalu sia-sia? apa yang bisa kita dapat darinya? Mengeksplorasi fisik dan materi fana, mengeksploitasi “keren” dan akhirnya tanpa sadar mengikat engkau dengan dunia yang memang mereka cinta. Andalkan wajah yang “cool”, tanpa sadar standar kita dalam menilai orang tidaklah dari akhlak sebagaimana perintah Allah, tapi dari fisik.

Setiap jiwa pasti akan merasakan mati, setiap yang bernyawa pasti akan rusak dimakan waktu, termasuk kulit indah dan wajah tampan. Saat di bawah tanah ia adalah konsumsi belatung, tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari “keren” dan “cool” fisik dan apakah ada amal saleh yang artis dan boyband itu buat? Nihil. Selama ini belum pernah kita dengar bahwa salah satu dari pintu surga adalah kemahiran mengolah dansa dan wajah romansa, memang tak ada dan belum pernah disampaikan Rasulullah bahwa jalan untuk hindari neraka adalah wajah yang cool dan gaya yang keren.

Tahukah kita, bila kita mengidolakan seseorang, maka kita akan selalu berusaha menyesuaikan diri kita dengan idola yang kita kagumi? Menirunya dalam segala perkara, mimikri segala tindak tanduk bahkan semua cara berpikir dan merasa, seolah kita bagian dari idola kita? Minimal kita memaksa diri mengetahui setiap hal yang ada pada idola, bahkan melebihi tahu kita terjadap sirah Rasulullah? Naudzubillah

Saat Anas bin Malik ditanya Rasulullah, “apa yang telah kamu siapkan untuk hari kiamat” Anas menjawab “Kecintaan kepada Allah & Rasul-Nya” Maka Rasulullah menjawab, “sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai” subhanallah, kecintaan dan kekaguman antarkan pada tempat yang sama. Anas pun berucap “kalau begitu, aku pun mencintai Abu Bakar dan Umar, berharap bersama mereka walau amalku belum seperti mereka”. Mengagumi, mencintai akan samakan tempat, bersama dengannya.

Bagaimana bila mencintai artis ? boyband dan semisalnya? hohoho.. Cukuplah Rasulullah Muhammad, Khulafaurrasyidin, shahabat dan Muslim tangguh lainnya yang menjadi idola dan yang kita kagumi. Selain memberikan manfaat di dunia, mereka juga bisa memberikan manfaat di akhirat, saat seluruh amal ibadah dihisab.

Jadikan manusia biasa idola, apalagi di zaman ini akan menghasilkan sesal dan kecewa, apalagi mengagumi dan mengidolakan yang tidak Muslim? Coba perhatikan ayat Allah “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum..>> ..Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar” (QS 63:4). Maksud kayu tersandar jelas sudah, perkataan dan fisiknya terlihat mengagumkan, namun amal dan akalnya kosong

Subhanallah, semoga kecintaan pada orang Mukmin, kagum akan ibadah dan amal shaleh mereka selalu menghiasi akal-pikiran kita. Amiiin

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: