Kisah Imam Al Buwaithi

Guna melengkapi hikayat teguhnya Imam Ahmad menghadapi faham khalqil Quran ala Mu’tazilah inilah kisah ‘alim yang syahid dalam mihnah. Nama beliau Yusuf ibn Yahya Albuwaithi. Dialah imam cendikia, penghulu para fuqaha’, guru besar Madzhab Syafi’i, & lautan ilmu. Beliau berjumpa pertama kali dengan Nashirus Sunnah, Imam Asy Syafi’i pada 198 H di Kairo; setelah petualangan ilmu yang kaya.

Kecerdasan, keluasan wawasan, & kelembutan akhlaqnya segera menempatkannya di puncak jajaran para murid utama Imam Asy Syafi’i. “Al Buwaithi itu tak ubahnya”, ujar sang guru suatu ketika, “Lisan yang kuguna untuk bicara. Tiada yang lebih ‘alim daripadanya.” Al Buwaithi juga memimpin Lembaga Nahi Munkar atas perintah Asy Syafi’i; bersama aparat bahu-membahu mencegah maksiat di Kairo.

Selain memimpin murid Asy Syafi’i menggerebeg tempat maksiat bersama aparat; Al Buwaithi suka membangun fasilitas umum bermanfaat. Segala kebaikan Al Buwaithi dalam hal ini; juga ilmu & ibadahnya dipersaksikan murid kesayangan Asy Syafi’i; Rabi’ ibn Sulaiman. Imam Ibn Abil Jarud berkata; “Al Buwaithi adalah tetanggaku. Demi Allah; tiap kali aku terjaga sesaat di malam hari, dia pasti.. ..sedang membaca Al Quran & shalat.”

Sedang Imam Adz Dzahabi memujinya sebagai; “Pemimpin dalam ilmu, panutan dalam ‘amal.. seorang zuhud, Imam yang Rabbani, rajin Tahajjud & berpuasa, senantiasa basah lisannya oleh dzikir; & akalnya giat bertafaqquh. Perlu berjilid kitab untuk menerakan pujian para ‘Ulama terhadap Imam Yusuf ibn Yahya Al Buwaithi; mohon izin meloncat ke inti.

Menjelang wafat Imam Asy Syafi’i; murid paling dituakan, Imam Al Humaidi mendekat ke ranjang yang dijaga Imam Rabi’ ibn Sulaiman. Al Humaidi memohon agar Imam Asy Syafi’i menunjuk pewaris majelisnya; sebab dia khawatir akan ada perselisihan jika tak demikian. “Tiada yang lebih berhak atas Majelisku”, ujar Imam Asy Syafi’i, “Selain Yusuf Al Buwaithi.” Maka disampaikanlah hal itu kepada..tiga murid yang banyak didukung oleh masyarakat & para murid lain; Imam Al Muzani, ‘Abdullah ibn ‘Abdil Hakam, & Al Buwaithi.

Imam Al Muzani dengan tawadhu’ menerima hal ini; tapi ‘Abdullah ibn ‘Abdil Hakam balik badan & berlalu meninggalkan majelis. Rabi’ ibn Sulaiman menyatakan; hal ini tepat seperti firasat Imam Asy Syafi’i kala beliau menyatakan; “Rabi’-lah periwayat..ilmuku; ‘Abdullah ibn ‘Abdil Hakam akan kembali ke Madzhab ayahnya {Maliki}, & Al Buwaithi akan gugur dalam penjara.” Tepat seperti kata Imam Asy Syafi’i; kelak Rabi’ ibn Sulaiman-lah yang paling banyak meriwayatkan ilmu beliau.

Orang kedua; ‘Abdullah ibn ‘Abdil Hakam adalah murid yang amat dikasihi Imam Asy Syafi’i; sehingga amat berhasrat menduduki majelis beliau.
Ketika hal tersebut tak terpenuhi dia kecewa; hingga kembali ke Madzhab Maliki & akhirnya berhasil jadi Imam-nya yang terkemuka. Maka inilah kisah orang ke-3; Al Buwaithi, yang oleh Imam Asy Syafi’i dibisikkan pada Rabi’ ibn Sulaiman akan gugur di penjara.

Belum lama memegang Majelis; ujian dahsyat iti bermula. Di Baghdad, Mu’tazilah berkuasa & memaksakan faham kemakhluqan Al Quran. Seperti telah kita simak beberapa waktu lalu dalam kisah cobaan Imam Ahmad; faham ini mendikotomi semesta menjadi Khaliq-Makhluq. Al Quran yang bukan Khaliq (pencipta); bagi mereka haruslah Makhluq (ciptaan).

Dan kita sudah fahami konsekuensi nalar ini. Pendahulu Islam Liberal nan cerdas ini hendak menggiring; sebab ia makhluq, maka bisa benar-bisa keliru; & akal menjadi hakimnya. Di Baghdad, banyak ‘ulama akhirnya harus jatuh menyerah; terpaksa mengucapkan kalimat batil itu di bawah ancaman pedang & siksa. Tokoh Mu’tazilah Mesir; Hakim Tinggi Abu Bakar Al Asham menyurati Hakim Agung Ahmad ibn Abi Du’ad; sarannya; tangkap Al Buwaithi.

Berkat hasutan Ibn Abi Du’ad pada Penguasa Daulah ‘Abbasiyah, Al Watsiq biLlah; Gubernur Mesir yang menghormati Al Buwaithi. tak mampu berbuat apapun ketika Al Buwaithi -sebagaimana Imam Ahmad- menolak bersikap lunak & mengucapkan kalimat bersayap. Al Buwaithi berkata pada Gubernur yang amat sedih; “Pengikutku ratusan ribu jumlahnya; sesatlah mereka jika aku berpura-pura.. hanya agar selamat dari siksa.” Maka dibelenggulah Al Buwaithi & digiring dalam perjalanan menyiksa dari Kairo hingga Baghdad.

Imam Rabi’ ibn Sulaiman mengisahkan; “Aku menyaksikan Imam Al Buwaithi dinaikkan ke bighal. Di lehernya ada belenggu seberat 40 pon; tangan & kakinya disatukan dalam borgol & antara belenggu leher dengan borgol menjuntai rantai besi seberat 40 pon. Saat itu beliau berkata, “Allah ciptakan makhluqnya dengan berfirman ‘KUN’, maka terjadilah. Seandainya firman KUN ini makhluq maka konsekuensi pemahamannya; Khaliq mencipta makhluq yang mencipta makhluq.

Andai aku bertemu Al Watsiq, akan kusampaikan. pada beliau.” Sayangnya, justru karena kata-kata ini-lah; Imam Al Buwaithi dikhususkan agar jangan sampai jumpa sang Khalifah. Jadi ceritanya; para pengawal Mu’tazilah mencatat ucapan & hujjah beliau & melaporkannya pada Hakim Agung Ahmad ibn Abi Du’ad. Terperangah Ibn Abi Du’ad menyeksamai betapa cerdas Imam Al Buwaithi; bisa menekuk faham khalqil quran hanya dalam 1 kalimat. Maka berbeda dengan perlakuan pada ‘ulama lain yang meski disiksa sempat bertatap muka dengan Khalifah.

Al Buwaithi diisolasi. Sebabnya; Al Buwaithi sungguh pewaris ketajaman logika, kefasihan bahasa, & kesantunan akhlaq Imam Asy Syafi’i; para pembesar. Mu’tazilah khawatir, pesona dahsyat itu akan membalik keberpihakan Khalifah yang selama ini mereka nikmati. Sungguh berbahaya. Karena kecerdasannya ditakuti; penjaranya bawah tanah; 4 tahun tak lihat mentari; tidak diizinkan bersuci & disiksa jika ibadah.

ujung kehidupan yang penuh dera, istiqamah yang tak tertawar oleh apapun jua. Betapa payah beliau setelah perjalanan terbelenggu besi berat dari Kairo hingga Baghdad; lalu dijebloskan ke penjara bawah tanah. Tak seperti Imam Ahmad yang berkesempatan audiensi dengan Khalifah & mendebat Ibn Du’ad si Mu’tazilah; tersebab pesona akalnya yang tajam, kefasihan bahasanya, & kesantunan akhlaqnya; Imam Al Buwaithi diisolasi total di penjara bawah tanah yang gelap.

Beliau tetap dibelenggu ke tembok di penjara itu. Dan yang paling menyakitkan bagi beliau adalah; sulitnya bersuci, susahnya menetapkan waktu shalat sebab berbulan tak melihat mentari; hingga beliau menjadikan jam-jam siksa cambukan sebagai patokan. Suatu hari, di atas sobekan bajunya yang kumal, dengan darah dari jemari, beliau berusaha menulis surat untuk sejawat ‘ulama.

Seorang sipir yang bersimpati; hendak menolongnya untuk menyampaikan surat itu; tapi pada siapa? Ujar Al Buwaithi; “Siapapun yang kau anggap ‘Ulama & masih istiqamah untuk tidak sudi mengatakan bahwa Al Quran itu makhluq.” Bingunglah si sipir; karena di Baghdad & sekitarnya, kebanyakan ‘ulama telah tiarap oleh besi & api; sementara yang istiqamah juga terbunuh atau dipenjara. Akhirnya si sipir baik hati rela desersi & melarikan diri ke Khurasan; menemui ‘alim ahli hadits; Imam Adz Dzahali di Majelisnya.

Imam Adz Dzahali & para muridnya menangis kala surat sederhana itu dibacakan; isinya, “Aku terhalang untuk bersuci & beribadah doakanlah agar Allah mengaruniakan jalan terbaik bagi hamba lemah sepertiku.” Dan gaduhlah Majelis ketika doa dilantunkan mereka terbayang betapa berat cobaan yang ditanggung oleh Imam Al Buwaithi seperti dikisahkan mantan sipir yang membawa surat.

Mungkin atas doa mereka juga; Allah memberi jalan terindah pada Imam Al Buwaithi. Di tahun 231 H beliau akhirnya wafat dalam keadaan terbelenggu bertumpuk rantai; di dalam penjara; & mengulang-ulang syahadat serta pernyataan bahwa Al Quran adalah KalamuLlah. Maka berakhirlah segala derita beliau yang memilukan, ruhnya menghadap ke haribaan Allah Rabbil ‘Alamin Seperti penutup kalimat wasiatnya pada Imam Rabi’ ibn Sulaiman; “Aku tahu kan mati dalam belenggu; agar ummat pun nantinya tahu harga kebenaran yang ditebus dengan nyawa & derita para ‘ulama; & layaklah begitu sebab memang ianyalah kebenaran sejati.

Semoga Allah merahmati Imam Al Buwaithi yang kukuh hingga mati, juga Imam Ahmad yang teguh dalam penjara, siksa, & goda harta. Hanya agar ummat tak menganut pemahaman berbahaya “Kemakhluqan Al Quran” yang konsekuensi pemahamannya jauh menyimpang.  Semoga Allah meluruskan kami; sepemahaman kami yang fakir ilmu & dha’if akal ini.

Imam Al Bukhari berpendapat, “Segala perbuatan makhluq adalah makhluq.” Ini yang kemudian menjadi pangkal kesalahfahaman beliau dengan Imam Adz Dzahali tentang “lafazh Al Quran.” Lafazh Al Quran; ianya KalamuLlah; tapi “pelafalan Al Quran” oleh pembacanya adalah perbuatan makhluq. Ini pendapat beliau yang oleh para pendengki diselirukan agar terjadi pertentangan hebat dengan Imam Adz Dzahali. Tiada ikhtilaf dalam status Mushhaf sebagai makhluq. Tapi bukan itu maksud Mu’tazilah yang mencengkeramkan kekuasaan di masa Al Makmun, Al Mu’tashim, & Al Watsiq, Gurunda.

Dan tersyukuri jua; Imam Al Bukhari mulai termasyhur namanya bukan di zaman ini; tapi di masa pemerintahan Al Mutawakkil yang lurus. Di masa Al Mutawakkil yang amat mengagumi Imam Ahmad; fitnah kemakhluqan Al Quran nan berdarah itu dihentikan.

Andai bukan sebab keteguhan ‘ulama semacam Imam Ahmad & Al Buwaithi; logika dikotomis Mu’tazilah kan membuka pintu kerusakan yang lebar. Jadi semoga sangkaan kami yang bodoh ini benar; ini bukan cuma soal ‘perdebatan remeh’ & ‘memilih argumen yang cerdik’. Ini zaman ketika ummat mempertaruhkan sesat-selamatnya pada ‘Ulama yang memilih teguh walau mati binasa. WaLlahu A’lam

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: