Menjadi Orang Mulia

Menjadi orang mulia berarti tak bebas perkara. Adakala seorang mulia, di dakwa oleh orang mulia dan di bela oleh orang muia. Tersebabnya mahsyurnya Imam Asy Syafi’i ialah sosok yang amat diperhatikan oleh Yahya ibn Ma’in; ahli ilmu ‘Jarh wat Ta’dil. Inilah ilmu tentang menilai para periwayat; layaklah ucapan bersanadnya di terima.

Dan Yahya adalah Imam dalam ilmu ini. Sedang Imam Asy syafi’i adalah sosok agung yang majlisnya mempesona banyak manusia; dari jelata hingga raja; awam hingga ‘ulama. Maka terkejutlah dunia ketika suatu hari Yahya ibn Ma’in berkata, ” kuduga Asy syafi’I seorang Syi’ah Rafidhah !” Ini tuduhan berat.

Sebab Syi’ah Rafidhah berarti sama dengan segolongan dengan orang-orang yang mencela sahabat, memfitnah ‘Aisyah, mendustakan sebagian Qur’an. Latar belakang Syafi;I sebagai putra Bani Muthalib dan pembelanya beberapa keturanan ‘Ali nan terzalimi seakan membukti. Dan Syafi’I bukan orang yang suka berapi-api mendebat tuduhan.

Beliau bahkan hanya bersair yang ujungnya keluhan halus. ”Jika karena mencintai Nabi Muhammad disebut Rafidhah”, ujar beliau. ”Maka saksikan bahwa aku seorang Rafidhah.” Suasana hangat hingga seorang mukia yang lain turun tangan. Inilah Imam Ahmad ibn Hambal bertanya pada Yhaya bin Ma’in. ”Apa hujahmu yang bukan praduga hai Yahya; sebagai bukti bahwa Asy Syafi’I seorang Rafidhah?

” Maka Yahya ibn Ma’in menjawab..”Aku sudah membaca Risalah Fiqh-nya dalam masalah ‘Pemberontakan’; demi Allah, banyak sekali berhujah dengan pendapat ‘Ali!”. Imam Ahmad tersenyum; ”Hai Yahya; lalu dengan pendapat siapa kau harapkan dia berhujjah; padahal satu-satunya khalifah yang menghadapi ‘Pemberontakan dari sesama Muslimin’ adalah ‘Ali?”

Mendengarnya Yahya ibn M’in tercekat tidak bisa menjawab. Maka tuduhan pada si mulia [Imam Asy Syafi’i] oleh si mulia [Imam Yahya] reda dan selesai oleh pembelaan si mulia [Imam Ahmad].Kebersamaan dan cinta pada mereka yang mulia, mengantar kita kedudukan yang mungkin takan di capai amal pribadi semata-mata.

Sebaik-baik bekal adalah taqwa; sebaik-baik kawan adalah ilmu; sebaik-baik buah tangan adalah akhlaq mulia. Menempatkan setiap orang dalam kedudukan penting di kepala dan dada adalah jalan yang landai menuju kemuliaan dan kepemimpinan. Taat, pandai dan rupawan itu mempesona. Tapi bertampil-tampil menampakkan keshalihan, kepintaran dan ketampanan hanya memualkan sesama.

Diantara penyakit berbahaya ingin dianggap penting. Ia menuntun untuk menjilat keatas, menyikut kesamping dan menginjak kebawah. Diantara kiat menghindar dari kagum diri dan keinginan di puji adalah tetep beramal. Tapi sempatkan takjub dan menghargai para tercinta.

Diantara sikap teraneh; mempercayai puja-puji terhadap apa yang tidak ada pada dirinya dan marah murka jika disebut keburukan yang nyata adanya. Sedikit yang mampu mempertahankan adab terhadap Allah dan mahluk kala berlimpahan. Itulah mengapa kelapangan harus di waspadai. Kurangnya kemesraan dengan Khaliq menggoda jiwa untuk bergantung pada mahluk.

Begitulah keyakinan dan kehormatan di uji dalam Iman. Kurangnya keakraban dengan Qur’an; menggoda nalar dan rasa untuk mencari pemuas tanya, penghibur jiwa dan penyembuh luka di jalan remang. Yang perlu di waspadai dalam pertemanan dengan orang buruk adalah; menganggap diri sebagai baik sebab si kawan di jadikan ukuran [Ibn ‘Athaillah].

Sedang yang diwaspadai terhadap perkawanan dengan orang mulia adalah; merasa sama padahal selama ini kita hanya sebagai pemantul cahaya mereka. Tiap amal punya fadilah ukhrawi dan duniawi. Adapun fadilah duniawi, kian difikir-fikirkan makin enggan untuk datang [KH. Mu’tamid kholil].

Allah menerima ketaatan amal kita itu udah suatu kehormatan, tetapi kita sering lancang menuntut di segaerakan balasan [Ibn ‘Athaillah]. Allah menahan pahala terkasih untuk di akhirat karena bisa jadi sluruh dunia beserta isinya tak sebanding dengan amalnya [Ibn Qayyim]

Mari menyemangati para pemimpin negri,wilayah dan daerah yang terus berkarya; karena yang fasih bekerja biasanya gagap bercerita J , Menyemangati pemimpin agar adil-pengasih, cendikia agar bersumbang asih, hartawan agar dermawan dan dhu’afa agar sabar dan berkehormatan.

Indah…….  Ada bunga yang dikerumuni lebah dan kupu. Pun ada sampah yang di kerubung lalat, tak semua pesona itu mulia; naïf jika mudah berbangga. smoga bemanfaat, dan lebih semangat lagi dalam beramal. Mudahkanlah jangan dipersullit dan bergembiralah, jangan lari. By @salimAfillah

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: