May Day

kisah tentang buruh, tepatnya budak di zaman ketika para pekerja mau mencerdaskan diri dan para majikan sudi mendengar suaranya. Dia Mubarak namanya nan berkah mengalir jadi doa untuk kebun anggur yang dia jaga. Panen berlimpah sejak bulan pertama tugasnya. Maka di bulan ketiga si majikan meninjau kebun itu.

“Mubarak!”, Panggil sang tuan , “Ambilkan untukku setangkai anggur yang bai”! Bergegas Mubarak memilih di antara sulur-sulur anggur; di petiknya setangkai yang buahnya tampak paling kokoh, liat, dan mengkilat. Diserahkanya anggur pilihanya itu pada sang majikan. Mengernyit sejenak, si tuan mencicipi sebutir .

Dan benar! Masam kuadrat!. “Mubarak”, bentaknya , “Apa ini? Anggurnya masam sekali! Apa sengaja kau membuatku marah pagi-pagi? Cari lagi pilih yang betul!”. Bergegas Mubarak kesesuluran. Karena yang tadi keliru, dia pun mencari sifat sebaliknya; dipilihnya yang lembek, berair dan kusam.

Begitu di serahkan, murkalah sang majikan. “Dungu! Yang tadi masih mentah, yang sekarang busuk! Tak tahukah kau mana anggur yang bagus?” , “Tidak, Tuan”, jawab Mubarak polos. “Celaka! 3 bulan kau jaga kebun ini dan kau tak tahu mana anggur yang bagus?

Apa kerjamu?” , “Maaf Tuan”, Mubarak berkaca-kaca, “Saya tak tahu, sebab tugas yang Tuan embankan adalah menjaga kebun, bukan mencicipi buahnya.” Ganti sang majikan terperangah. Dia tak menyangka Mubarak akan menjawab demikian. Alangkah lugu; jujur, polos dan wara.

Sejak itu, hubungan mereka jadi demikian dekat. Penuh kepercayaan, si majikan member tugas-tugas yang makin berat pada Mubarak. Demikian juga dalam hal-hal pribadi; sang majikan mulai banyak meminta masukan dan pertimbangan Mubarak.

Satu hari, dia dipusingkan dengan putrinya. Banyak yang berminat menyunting si cantik semata wayang, pilihan-pilihan sungguh tak mudah, sulit sekali menjawab lamaran. “Dengan siapa sebaiknya kunikahkan putriku satu-satunya wahai Mubarak? Bantulah aku! Berikan pertimbangan mu?”

Mubarak berkata polos, “Tuan kudapati kaum yang menikahkan putrinya dengan pertimbangan nasab semata adalah musyrikin Quarisy. Dan kudapati, menikahkan anak perempuan dengan pertimbangan paras dan rupa di zaman ini, dilakukan sebagian orang-orang Nasrani. Kudapati pula, yang sering menikahkan putrinya dengan pertimbangan kekayaan adalah Ahli kitab dari kalangan Yahudi.

Maka bagimu yang adalah muslim lagi mukmin; yang harus dipertimbangkan soal calon menantu hanyalah agama, imanya, akhlaqnya!”. “Kalau begitu”. “Senyum si Tuan, “Aku tak punya pilihan lain. Bersiaplah hai Mubarak, hari ini kunikahkan engkau dengan putriku!”. Dari pernikahan Mubarak dengan putri majikanya lahir, Abdullah ibn Al Mubarak; imam tabi’it tabi’in , ‘alim, zahid dan mujahid.

Dia yang membagi tahun-tahunya menjadi 3; ilmu, jihad dan haji. Yang menulis syair, “Ya Abidal Haramain” tuk Fudhail ibn ‘Iyadh. Dialah yang disebut zubaidah , permaisuri Harun Ar-Rasyid , sebagai sebenar-benar Raja” sebab layanan tanpa lelahnya pada ummat. Semoga Allah meridhoi dan menyayangi sang majikan , putrinya sang buruh, dan Imam penuh berkah; Abdullal Ibn Al Mubarak, sepenuh cinta J

Semangat untuk para buruh, mari dalam moment may day ini kita jadikan sebagai evaluasi dalam agama, iman dan akhlak kita. Agar hidup lebih baik, selamat dunia akhirat. Amiiiin. Salam dan doa Ust Salim A. Fillah

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: